Kirka – Dominasi kelapa sawit sebagai penyumbang devisa utama Provinsi Lampung perlahan mendapat pendamping kuat.
Permintaan ekspor kopi robusta dan lada hitam asal daerah ujung selatan Sumatera mengalir deras memenuhi pasar Pakistan.
Pemerintah pusat merespons lonjakan pesanan dengan serius.
Kementerian Perdagangan langsung menerbitkan regulasi khusus tentang syarat mutu ekspor kopi ke negara Asia Selatan itu.
Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri bahkan memosisikan Pakistan sebagai tujuan menjanjikan bagi kopi Indonesia di bawah kawasan Timur Tengah.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menilai tingginya pesanan luar negeri sebagai momentum emas untuk memperkuat hilirisasi.
Ia menegaskan daerah penghasil tidak boleh lagi sekadar mengirim biji mentah asalan tanpa proses lanjutan.
“Keunggulan bersaing tidak cukup mengandalkan tanah subur atau iklim.
“Berdasarkan teori Michael Porter, nilai tambah dan diferensiasi produk menjadi penentu utama agar kita menang di pasar global,” kata Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 15 Mei 2026.
Fokus pembenahan kini berpusat pada perlakuan pascapanen higienis dan pemenuhan sertifikasi internasional.
Pakar Pertanian Universitas Lampung, Dr. Ir. Surip Mawardi, M.Si., sepakat bahwa diversifikasi produk olahan menjadi penopang utama keberlanjutan ekonomi agribisnis.
Menurut Surip, nama besar kopi dan lada Lampung merupakan modal awal yang sangat baik.
“Sekarang tinggal mendorong mutu dan memperkuat tata kelola branding. Kalau kualitas terjamin, harga jual di tingkat petani otomatis terangkat naik,” ujarnya.
Merespons dinamika pasar luar negeri yang makin terbuka, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengambil langkah konkret dari hulu ke hilir.
Ia menginstruksikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Dinas Perkebunan turun langsung mendampingi kelompok tani.
Fokus pendampingan mencakup pelatihan mutu panen, fasilitasi sertifikat organik, sampai tahapan pengurusan indikasi geografis.
Pemerintah provinsi bahkan memfasilitasi proses kurasi langsung antara pembeli dari Pakistan dengan perwakilan petani lokal.
“Kita ingin petani kopi naik kelas. Targetnya ekspor langsung, bukan sekadar duduk menjadi pemasok bahan baku,” ungkap gubernur yang akrab disapa Iyai Mirza.
Di sisi lain, Mahendra menambahkan, pencapaian menembus pasar internasional secara konsisten membutuhkan kolaborasi lintas sektor atau sinergi pentahelix.
Upaya keras Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Lampung, para penyuluh pertanian, serta jejaring eksportir dalam membina pekebun patut mendapat apresiasi tinggi.
“Kerja bersama lintas elemen melahirkan wajah pembangunan inklusif sesungguhnya.
“Devisa negara bertambah besar, sementara masyarakat perdesaan makin sejahtera,” pungkas Mahendra.






