Kirka – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal akhirnya menetapkan Mohammad Zimmi Skil sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Provinsi Lampung definitif, Selasa, 24 Februari 2026.
Penunjukan ini dinilai langkah strategis mengingat Lampung tengah berpacu mengejar target hilirisasi industri sekaligus mengamankan stabilitas harga pangan menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Pelantikan yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Marindo Kurniawan, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur itu mengakhiri masa jabatan Pelaksana Tugas (Plt) yang diemban Zimmi sejak Desember 2025.
Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menyebut penetapan Zimmi adalah kemenangan sistem meritokrasi.
Menurutnya, Zimmi merupakan tipe birokrat teknokratis yang tumbuh dari akar, bukan sekadar titipan politis.
“Ini pengukuhan atas kompetensi. Zimmi adalah produk otentik dari dapur birokrasi perdagangan Lampung.
“Dia meniti karier dari Kepala Seksi, Kabid, hingga kini Kepala Dinas. Rekam jejak digital dan lapangannya sinkron,” tegas Mahendra Utama, Selasa, 24 Februari 2026.
Tantangan Hilirisasi dan Dirijen Ekonomi
Dalam amanatnya, Sekdaprov Marindo Kurniawan menitipkan beban berat di pundak Zimmi, akselerasi hilirisasi, digitalisasi perdagangan, dan kelancaran distribusi logistik antarprovinsi.
Menanggapi hal ini, Mahendra Utama yang juga Presiden Komisaris PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis menganalisis bahwa tugas Zimmi tak sekadar administratif.
Ia harus mampu menjadi dirijen yang mengorkestrasi sektor hulu (pertanian/perkebunan) dengan hilir (perdagangan/industri).
“Gubernur Mirza punya visi besar Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045. Artinya, Disperindag tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama.
“Zimmi harus mendorong transformasi barang mentah menjadi produk bernilai tambah. Ini PR (Pekerjaan Rumah) besarnya: Hilirisasi,” papar Mahendra.
Inflasi Jelang Ramadan
Di sisi laln, tak butuh waktu lama bagi Zimmi untuk tancap gas.
Sesaat setelah dilantik, ia langsung menginstruksikan pengawasan ketat terhadap rantai pasok pangan.
Fokus utamanya adalah lonjakan harga cabai rawit merah yang kini tembus Rp75 ribu per kilogram akibat pasokan dari Jawa yang tersendat.
Mahendra menilai langkah cepat Zimmi memetakan masalah supply chain ini menunjukkan kualitas kepemimpinan lapangan yang kuat.
“Dia paham betul bahwa stabilitas harga tidak cukup hanya dengan operasi pasar, tapi harus membenahi rantai pasok dari hulu.
“Respons cepatnya berkoordinasi dengan dinas teknis hortikultura adalah bukti dia siap bekerja, bukan sekadar seremoni,” tambah mantan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh tersebut.
Bagi Mahendra, keberhasilan Zimmi melewati proses seleksi terbuka (lelang jabatan) yang kompetitif adalah bukti validitas kapasitasnya.
Kini, publik menanti terobosan nyata dari “Sang Anak Buya” julukan akrab bagi putra tokoh Lampung Buya Sauki Shobier tersebut.
“Harapan saya objektif saja. Semoga Zimmi mampu melampaui capaian pendahulunya dan menjadikan Disperindag lokomotif riil ekonomi Lampung.
“Bukan hanya bicara angka statistik, tapi dampak nyata bagi masyarakat,” pungkas Mahendra.






