KIRKA – Presidium Majelis Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (MW Forhati) Provinsi Lampung dr Zam Zanariah gaungkan kesetaraan gender di lingkungan mahasiswa.
Zam Zanariah mengajak mahasiswa berperan sebagai generasi muda dalam mengejawantahkan kesetaraan gender.
Ketua Gerakan Nasional Antinarkoba (Ganas Annar) MUI Kota Bandar Lampung 2018 – 2023 ini mengatakan inkonsistensi perempuan dalam memperjuangkan kaumnya menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya ketidakadilan gender.
“Terkadang yang memundurkan soal kesetaraan gender ini ya memang perempuan itu sendiri. Mereka yang menjadi pemimpin, baik di bidang sosial, ekonomi, politik, dan hukum, tidak menjadikan isu gender sesuatu yang penting,” kata Zam Zanariah usai menjadi pemateri dalam acara diskusi bersama mahasiswa FKIP Universitas Lampung, Kota Bandarlampung, Sabtu (10/6/2023).
Baca Juga: Zam Zanariah Terbukti Melanggar Netralitas ASN
Inkonsistensi perempuan ini hanya salah satu dari sekian faktor yang menyebabkan ketidakadilan gender di masyarakat.
Faktor lainnya, menurut dr Zam, adalah nilai sosial dan budaya patriarki, pemahaman ajaran agama yang tidak komprehensif dan cenderung parsial, serta produk dan peraturan perundang-undangan yang masih bias gender.
“Kadangkala kebijakan tidak berpihak dengan perempuan, malah memarginalkan perempuan,” ujar dia.
Zam Zanariah gaungkan kesetaraan gender. Organisatoris ini menegaskan tidak ada perbedaan di antara laki-laki dan perempuan dalam hal kemampuan dan kompetensi.
Pengurus IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ini menilai laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan kondisi untuk memperoleh hak-haknya sebagai manusia dan menikmati hasil pembangunan.
“Sebagai manusia, baik laki-laki maupun perempuan, mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, dan pertahanan keamanan nasional,” kata Zam.
Zam Zanariah menggaungkan kesetaraan gender di tengah masyarakat.
Dia memandang perempuan berhak mendapatkan kesempatan menjadi pejabat publik tanpa melupakan kodratnya.
“Seks itu hanya digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis. Sementara, gender berkonsentrasi pada aspek nonbiologis,” jelas dia.
“Studi gender juga lebih menekankan pada aspek maskulinitas dan feminitas seseorang, bukan karakteristik biologis,” lanjut dr Zam.
Dia berharap Seminar untuk Perempuan (Super) 2023 “Peran Mahasiswa sebagai Generasi Muda Dalam Mengejawantahkan Kesetaraan Gender” dapat membangun kesadaran mahasiswa untuk berperan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat terkait kesetaraan gender.
Baca Juga: Zam Zanariah Nyaleg Lewat Partai Demokrat Lampung






