Kirka – Gagasan besar untuk mengawinkan kekuatan agrikultur raksasa di Sumatera bagian selatan dengan infrastruktur logistik mumpuni di ujung barat Pulau Jawa mulai dilempar ke ruang publik.
Langkah strategis lintas daerah ini dinilai sebagai kunci utama untuk mendongkrak 15 hingga 20 persen ekspor pertanian nasional pada tahun 2026.
Gagasan tersebut disuarakan secara lantang oleh Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama.
Ia memproyeksikan sebuah sinergi yang disebutnya sebagai Trilogi Emas, sebuah cetak biru integrasi ekonomi yang melibatkan Provinsi Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), dan Banten.
“Bayangkan tiga provinsi ini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi.
“Lampung sebagai lumbung pangan utama, Sumsel sebagai jantung sawit dan pupuk, serta Banten yang bertindak sebagai gerbang logistik modernnya.
“Ini adalah episentrum agroindustri yang belum tergarap optimal,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 18 Maret 2026.
Menurut Mahendra, optimisme tersebut bukan sekadar pepesan kosong, melainkan berpijak pada data empiris riil yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Sepanjang 2025, ketiga provinsi penyangga Selat Sunda ini menunjukkan performa ekonomi yang impresif dan di atas rata-rata.
Lampung, misalnya, mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,28 persen dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menyentuh Rp525,85 triliun.
Capaian itu disokong oleh produksi beras yang melesat 14,65 persen menjadi 1,84 juta ton, serta lonjakan ekspor kopi robusta yang menembus 207.702 ton hingga Agustus 2025.
“Lampung bukan lagi lumbung biasa. Dengan tren hilirisasi singkong menjadi mocaf dan bioetanol, provinsi ini sedang bertransformasi menjadi mesin penggerak hilirisasi nasional,” imbuhnya.
Sementara itu, Sumsel melaju dengan pertumbuhan 5,35 persen.
Stabilitas harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di level Rp3.517 per kilogram pada Maret 2026 menjadi katalisator positif.
Lebih dari itu, Sumsel melalui PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) memegang kendali krusial sebagai pemasok pupuk hijau untuk klaster perkebunan di Lampung.
Rantai pasok kemudian bermuara di Banten. Dengan sokongan investasi Rp130,2 triliun dan pertumbuhan ekonomi 5,37 persen pada 2025, Banten siap merevitalisasi sejarah jalur rempahnya.
Pelabuhan Merak yang kini terintegrasi dengan Tol Trans-Sumatera diplot menjadi pintu keluar produk olahan premium dari Sumatera menuju pasar global.
Strategi Presisi
Meski di atas kertas menjanjikan, Mahendra tak menampik adanya bayang-bayang tantangan, mulai dari fragmentasi data antar-daerah hingga volatilitas harga sawit.
Untuk menjawab persoalan klasik tersebut, ia menyodorkan lima langkah taktis yang harus dieksekusi pemerintah daerah:
- Dashboard Digital Trilogi Provinsi: Sebuah sistem mitigasi real time untuk memantau stok singkong, pupuk NPK, dan pergerakan harga ekspor guna mencegah anjloknya harga di tingkat petani.
- Klaster Hilirisasi Terintegrasi: Mengadopsi Teori Klaster Michael Porter, di mana Sumsel menyuplai CPO, Lampung menyediakan bahan baku dan teknologi bioetanol, sedangkan Banten fokus pada tahap finishing produk akhir dan akses pelabuhan.
- Efisiensi Logistik Poros Maritim: Mengoptimalkan rute Panjang–Merak–Palembang melalui skema backhaul logistik. Skema ini diproyeksikan mampu memangkas biaya distribusi hingga 15-20 persen.
- Sertifikasi Green Label Global: Penetrasi pasar ketat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat melalui rantai pasok bebas deforestasi (Proklim) dan Indikasi Geografis untuk lada Banten.
- Pembentukan Dewan Bisnis Lintas Daerah: Orkestrasi kebijakan antara Pemda, Kadin, asosiasi, dan Pusat Riset Bersama yang didanai minimal 2 persen dari APBD masing-masing provinsi.
Desakan Aksi Kolektif Kuartal II 2026
Sebagai bentuk komitmen awal, Mahendra mendesak lahirnya aksi kolektif nyata pada Kuartal II 2026.
Ia secara khusus memanggil tiga kepala daerah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Gubernur Sumsel Herman Deru, dan Gubernur Banten Andra Soni untuk segera duduk bersama merumuskan Memorandum of Understanding (MoU).
Selain penandatanganan kesepakatan, ia juga menyoroti pentingnya pembentukan Dana Abadi Riset dan peluncuran Kartu Eksportir Pemula untuk memberdayakan UMKM di ketiga wilayah.
“Sinergi adalah ikhtiar logis untuk menghidupkan kembali kejayaan rempah Nusantara.
“Mengutip visi hilirisasi Kementerian Pertanian, ekspor kita baru benar-benar bermakna ketika kapal kecil nelayan dan truk-truk petani juga ikut berlabuh menuju panggung ekonomi dunia. Saatnya kita buktikan,” pungkas Mahendra.






