ST Burhanuddin Pembasmi Mengerikan Namun Lunak Hati

Kirka.co
Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin. Foto Dok Penkum Kejagung

KIRKA – Sosok Jaksa Agung ST Burhanuddin akhir-akhir ini memang menarik perhatian publik, pasalnya banyak gebrakan hukum yang dia lakukan, mulai dari membongkar kasus-kasus mega korupsi hingga gagasan revolusionernya mengenai keadilan restoratif.

Tidak heran, sikap tegas Jaksa Agung ini membuat koruptor alias maling uang rakyat ketar-ketir sehingga nekat melakukan serangan balik terhadap institusi Kejaksaan dan Jaksa Agung secara pribadi, bahkan menyebutnya kontroversial.

Baca Juga : 10 Korporasi Jadi Tersangka Korupsi PT Asabri

Burhanuddin tidak bergeming, di bawah kepemimpinannya kinerja Kejaksaan Agung semakin kuat dan ditakuti koruptor, banyak kasus korupsi skala besar dan rumit berhasil dibongkar hingga diseret ke pengadilan, para pelakunya pun dihukum dan harta mereka disita untuk memulihkan kerugian negara.

Uang negara yang berhasil diselamatkan Kejaksaan Agung cukup fantastis, sebut saja misalnya dari kasus Danareksa Sekuritas Rp105 miliar, kasus impor tekstil Rp1,6 triliun, kasus Asuransi Jiwasraya Rp16 triliun, dan dari kasus Asabri Rp22,7 triliun.

Pernyataan Burhanuddin juga membuat koruptor dan kolaboratornya panas dingin, sebab Jaksa Agung menegaskan tak pandang bulu menjerat siapapun yang melindungi koruptor, dan ancaman ini pun benar-benar dia buktikan pada kasus megakorupsi Jiwasraya dan Asabri, juga kasus-kasus lain.

Baca Juga : 7 Saksi Diperiksa Terkait Tipikor PT. ASABRI

Terakhir, Kejaksaan Agung menjerat anggota DPR RI Alex Noerdin, yang juga mantan Gubernur Sumatera Selatan, sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi di Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Sumsel.

Namun di sisi lain, seorang Burhanuddin merasa sedih ketika ada rakyat jelata yang dihukum layaknya kriminal, seperti kasus yang menimpa Nenek Minah dan Kakek Samirin, ia menilai kedua orang tua miskin itu telah mendapat perlakuan hukum tidak pantas dan tidak seyogianya diteruskan ke pengadilan.

Nenek Minah yang dimaksud Jaksa Agung adalah seorang nenek tang tinggal di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Kabupaten Jawa Tengah.

Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto menjatuhkan hukuman 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan kepada Nenek Minah karena mengambil tiga biji kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA).

Adapun Samirin, kakek 68 tahun asal Simalungun, Sumatera Utara, dihukum 2 bulan penjara karena memungut getah karet seharga Rp17.000, Sejatinya kata Burhanuddin, jaksa selaku pemilik asas dominus litis, adalah pengendali perkara yang menentukan dapat atau tidaknya suatu perkara dilimpahkan ke pengadilan.

Dia menjelaskan penghentian perkara berdasarkan keadilan restoratif adalah suatu bentuk diskresi untuk menyeimbangkan antara aturan yang berlaku dengan tujuan hukum yang ingin dicapai.

“Saya ingin Kejaksaan dikenal melekat di mata masyarakat sebagai institusi yang mengedepankan hati nurani dan penegak keadilan restoratif. Kejaksaan harus mampu menegakkan hukum yang memiliki nilai kemanfaatan bagi masyarakat,” ucapnya, sambil menekankan Korps Adhiyaksa tidak membutuhkan jaksa yang pintar tetapi tidak bermoral.

Baca Juga : Jaksa & BPK Hitung Kerugian Negara Terkait Korupsi Asabri

Sebagai acuan restorative justice, Jaksa Agung telah menerbitkan Peraturan Kejaksaan (Perja) Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, yang diundangkan pada 22 Juli 2020.

Sejak Perja ini diterbitkan, Kejaksaan Agung telah menghentikan 302 perkara, Rinciannya ialah 222 perkara pada 2020 dan 80 perkara pada Januari-Agustus 2021, yang terdiri dari 73 perkara orang dan harta benda serta 7 perkara terkait keamanan negara dan ketertiban umum serta tindak pidana umum lain.

Ada beberapa syarat penerapan Perja 15/2020, antara lain tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 tahun, serta barang bukti atau nilai kerugian perkara tidak lebih dari Rp 2,5 juta.

Gagasan Jaksa Agung ST Burhanuddin mengenai keadilan restoratif melalui pendekatan hati nurani itu menjadi perbincangan di kalangan akademisi dan pakar hukum pidana.

Gagasan tersebut tidak hanya dinilai revolusioner karena bisa mereformasi sistem peradilan pidana di Tanah Air yang masih terjebak pada pendekatan retroactive atau retributive dan atau penjara, tetapi juga dianggap lebih manusiawi dan Pancasilais.

Baca Juga : Alzier Puji Langkah Berani Kejaksaan Agung

Pendekatan keadilan restoratif mampu memecahkan kebuntuan atau kekosongan hukum materil dan hukum formil yang saat ini masih mengedepankan aspek kepastian hukum dan legalitas-formal, daripada keadilan hukum yang lebih substansial bagi masyarakat.

Sebagai apresiasi atas gagasan cemerlang itu serta kontribusinya di dunia hukum dan perguruan tinggi, Burhanuddin dianugerahkan gelar Guru Besar atau Profesor Kehormatan oleh Universitas Jenderal Soedirman.

Tidak hanya itu, pendekatan keadilan restoratif dapat meminimalisir over capacity penjara yang menjadi momok bagi Lapas di Indonesia, Oleh karena itu Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mengatakan prinsip keadilan restoratif ini akan diserap ke dalam revisi Undang-undang nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

Baca Juga : DPP KPK Tipikor Pertanyakan Kinerja Kejaksaan Lampung

“Dalam KUHP kita ada prinsip restoratif, nanti KUHP yang baru akan ada restorative justice, tentu Undang-undang PAS harus menyesuaikan,” ungkap Yasonna, Selasa 21 September 2021.

Sebelumnya, Badan Legislasi DPR RI bersama pemerintah telah menyepakati tiga RUU usulan pemerintah masuk ke dalam Program Legislasi Nasional Prioritas 2021, yakni RUU PAS, RKUHP, serta RUU Informasi dan Transaksi Elektronik.

Semua gebrakan Jaksa Agung itu mungkin dianggap kontroversial oleh para koruptor. Namun harapan Burhanuddin sederhana, “Saya hanya ingin menorehkan prestasi terbaik untuk bangsa,” ujarnya.