Kirka – Perairan Pesisir Barat hingga Kota Agung menyimpan stok yellowfin tuna (tuna sirip kuning), lemadang, dan marlin yang melimpah.
Sayangnya, kekayaan laut Lampung belum berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan setempat.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti lemahnya posisi tawar nelayan yang selama bertahun-tahun sekadar menjadi pemasok bahan mentah.
Tangkapan ikan premium kerap berhenti di pengepul dermaga lalu bergeser ke Jakarta dan Surabaya.
“Pola lama membuat nelayan kehilangan nilai tambah. Surplus ekonomi justru dinikmati pelaku usaha di luar daerah.
“Tanpa pengolahan dan akses pasar mandiri, posisi tawar nelayan tetap rendah,” kata Mahendra, Selasa, 19 Mei 2026.
Merujuk kerangka keunggulan kompetitif Michael Porter, Mahendra membedah persoalan struktural perikanan daerah.
Lampung memiliki keunggulan kondisi alam, namun lemah pada strategi perusahaan, industri pendukung, dan permintaan lokal.
Ketiadaan fasilitas rantai dingin (cold chain), jaminan sertifikasi mutu, serta koperasi yang solid membuat daya saing perikanan Lampung bagaikan berlian retak.
Realitas lapangan dibenarkan oleh Aswin Tama, pengusaha muda yang rutin memancing di laut dalam.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana nelayan belum menikmati hasil maksimal dari jerih payah di lautan.
“Mimpi nelayan adalah memiliki koperasi yang bisa langsung ekspor.
“Kami sangat butuh pelatihan penanganan ikan ekspor dan dukungan pemerintah,” ucap Aswin.
Menjawab tantangan rantai pasok, Mahendra mengusulkan konsolidasi nelayan melalui wadah koperasi.
Badan usaha kolektif berperan penting menjaga standar mutu, mengurus sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), hingga membuka jalur langsung ke pembeli (offtaker) global.
Praktik perbaikan tata kelola tentu mensyaratkan pendampingan manajemen dan ketersediaan teknologi penyimpanan yang memadai.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperlihatkan Indonesia bertengger sebagai pemasok utama tuna sirip kuning dunia.
Tren permintaan dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa terus meningkat tajam.
Bersamaan dengan fakta pasar, Menteri Kelautan sedang gencar memacu hilirisasi serta korporatisasi nelayan.
Mahendra mendesak seluruh pemangku kepentingan segera merebut momentum strategis yang sedang terbuka lebar.
“Mimpi ekspor langsung bukan utopia. Jika ekosistem pendukung pembiayaan, infrastruktur pendingin, dan pendampingan mutu terbangun, yellowfin tuna, lemadang, serta marlin Lampung pasti menjadi bintang di piring dunia,” pungkas Mahendra.






