Kirka – Sektor pariwisata Lampung mencetak rekor baru dengan jumlah kunjungan menembus 27 juta orang sepanjang tahun 2025.
Angka capaian melampaui target awal, menempatkan Bumi Ruwa Jurai di peringkat sembilan nasional, sekaligus menyumbang 10 persen bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai lompatan kunjungan wisatawan sebagai fondasi baru ekonomi daerah.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, pariwisata bertransformasi dari sekadar sektor pelengkap menjadi mesin utama penggerak kesejahteraan masyarakat.
Mahendra merujuk pada teori siklus hidup destinasi wisata (Tourism Area Life Cycle).
Menurutnya, daerah yang sedang tumbuh pesat akan mencapai kemajuan berkelanjutan bila ditopang kebijakan makro terintegrasi.
“Peran sentral Gubernur Rahmat Mirzani Djausal terlihat nyata dengan mengubah momentum lonjakan pengunjung menjadi strategi besar jangka panjang,” ujar Mahendra, Senin, 18 Mei 2026.
Akses dan Infrastruktur
Mengurai kendala klasik berupa aksesibilitas jalan menjadi langkah awal Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.
Sasaran utama perbaikan hingga pelebaran jalan difokuskan menuju kawasan pesisir selatan.
Mahendra mencontohkan proyek peningkatan ruas Jalan RE Martadinata dan realisasi Inpres Jalan Daerah (IJD) Padang Cermin–Teluk Kiluan senilai Rp48,2 miliar.
Pembangunan fisik terbukti memangkas waktu tempuh menuju lokasi wisata secara drastis.
“Bagi wisatawan, jalan yang mulus adalah pengalaman pertama yang memikat. Waktu perjalanan berkurang, sehingga wisatawan lebih nyaman menjangkau berbagai destinasi eksotis di Lampung,” jelasnya.
SDM dan UMKM
Di samping pembenahan infrastruktur, Pemprov Lampung rutin menggelar pelatihan pemasaran digital serta sertifikasi kompetensi berstandar Asia.
Sasaran program mencakup pelaku wisata, pemandu, hingga pemilik UMKM lokal.
Langkah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dinilai efektif memperpanjang durasi tinggal wisatawan dan menaikkan nilai belanja di lokasi wisata.
Gubernur juga secara aktif mendorong penggunaan wastra dan produk kriya khas Lampung sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat harian.
“Sinergi kebijakan membuat pergerakan ekonomi kreatif lokal sejalan dengan kenaikan jumlah kunjungan wisatawan. Masyarakat lokal benar-benar merasakan dampak ekonominya,” kata Mahendra.
KEK 2026
Menghadapi tahun 2026, Pemprov merancang pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di tiga titik, Bakauheni, Pesawaran, dan Lampung Selatan.
Target utamanya adalah menyatukan tata kelola pariwisata yang sebelumnya terpisah-pisah antarwilayah.
Konsep KEK didesain untuk menyederhanakan birokrasi regulasi, merapikan sistem retribusi, dan menarik masuknya investasi skala besar ke Lampung.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal meyakini penggabungan potensi wilayah merupakan kunci percepatan pertumbuhan.
“Sektor pariwisata di Bandarlampung, Pesawaran, dan Lampung Selatan punya potensi besar.
“Akses penghubung harus diperkuat agar roda perputaran ekonomi bergerak lebih cepat,” tegas Gubernur dalam sebuah kesempatan terpisah.
Mahendra optimistis arah kebijakan pariwisata Lampung sudah berjalan pada jalur yang benar.
Sinergi antara infrastruktur memadai, SDM unggul, dan tata kelola terpusat akan bermuara langsung pada peningkatan taraf hidup masyarakat.
“Dengan strategi terukur, potensi alam berhasil diubah menjadi sumber kemakmuran nyata bagi sembilan juta jiwa penduduk Lampung,” pungkasnya.






