Lawan Jarak dan Jalan Berlubang, Nelayan Kuala Teladas Temukan Cara Baru Jajakan Hasil Laut

Lawan Jarak dan Jalan Berlubang, Nelayan Kuala Teladas Temukan Cara Baru Jajakan Hasil Laut
Antusiasme perwakilan nelayan dan warga pesisir Tulang Bawang usai mengikuti pelatihan jurnalisme warga dan media sosial. Foto: Yopie Pangkey/Kirka/I

Kirka – Jarak tempuh dan jalanan berlubang bukan lagi jalan buntu bagi masyarakat pesisir Desa Kuala Teladas, Kecamatan Dente Teladas, Tulang Bawang.

Ketika infrastruktur darat belum berpihak, puluhan nelayan dan pelaku usaha kecil setempat memilih jalan pintas yang jauh lebih efektif untuk menembus keterisolasian, media sosial dan jurnalisme warga.

Langkah menembus batas geografis tersebut bermula dari sebuah pelatihan literasi digital yang digelar selama dua hari, Selasa hingga Rabu, 19-20 Mei 2026.

Diinisiasi oleh Tim Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (TPPRB) bersama Environmental Defense Fund (EDF) dan Blue Action Fund, forum tersebut mempertemukan berbagai elemen motor penggerak ekonomi desa.

Mulai dari Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar), Kelompok Usaha Bersama (KUB) dari Kuala Teladas dan Sungai Nibung, hingga Forum Komunikasi Nelayan Tradisional Pesisir Timur Lampung, seluruhnya duduk bersama mempelajari cara baru mengabarkan potensi daerah mereka ke dunia luar.

Manuver ke ranah digital memang mendesak dilakukan.

Secara geografis, Desa Kuala Teladas berjarak sekitar 80 kilometer dari jalan aspal utama.

Kondisi jalan tanah yang kerap rusak dan tergenang air membuat perjalanan darat bisa memakan waktu hingga dua jam.

Ironisnya, kawasan pesisir yang sulit diakses tersebut justru merupakan lumbung komoditas laut bernilai ekonomi tinggi seperti rajungan, udang, dan cumi yang menjadi penyuplai utama bagi meja makan di kota-kota besar.

Di sektor hilir, kelompok perempuan yang tergabung dalam Poklahsar sebenarnya terus berinovasi.

Mereka berupaya memberikan nilai tambah dengan mengolah hasil tangkapan mentah menjadi produk seperti kemplang dan kerupuk ikan.

Sayangnya, laju bisnis mereka kerap mentok pada urusan logistik.

“Selama pemasaran hanya mengandalkan kenalan dan pasar lokal, jangkauan kami terbatas.

“Lewat media sosial, harapannya produk olahan kami bisa lebih merambah ke luar daerah,” ungkap salah seorang anggota Poklahsar.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, travel blogger sekaligus praktisi digital, Yopie Pangkey, didapuk menjadi pemateri.

Ia membagikan kiat praktis mengemas kekayaan visual desa hanya dengan berbekal kamera telepon genggam menjadi narasi promosi yang memikat publik.

Menurut Yopie, keseharian nelayan dan denyut nadi pesisir memiliki daya tarik bercerita yang sangat berharga jika dikemas dengan teknik yang tepat.

Gagasan serupa juga diamini oleh perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Lamda Perdana Kusuma.

Baginya, warga pesisir adalah ujung tombak komunikasi publik terbaik.

Merekalah saksi mata sekaligus pihak yang paling paham akan potensi lautnya sendiri.

Lebih dari Jualan

Medium digital tidak melulu soal ekonomi. Kemampuan bercerita lewat gawai nyatanya juga dirancang sebagai ruang advokasi mandiri.

Saat ini, warga tengah diselimuti keresahan akibat maraknya aktivitas penambangan pasir timbul yang mengancam terumbu karang.

Padahal, karang tersebut berfungsi krusial sebagai benteng pemecah ombak alami sekaligus rumah berkembang biak bagi biota laut.

Bagi Pengurus Pokmaswas Kuala Jaya Lestari, Arif Rahman, menjaga kelestarian ekosistem adalah urusan keberlangsungan hidup nelayan itu sendiri.

“Kepedulian kami pada alam tidak main-main, karena hal tersebut berkaitan langsung dengan ketersediaan ikan dan rajungan yang jadi tumpuan periuk nasi kami,” tegas Arif.

Lewat keterampilan baru yang dipelajarinya, ia berharap masa-masa bungkam nelayan pesisir segera berakhir.

“Bertahun-tahun kami hanya jadi penonton. Ada potensi hebat atau masalah darurat di laut, orang luar jarang tahu.

“Kini saatnya kami mulai bercerita sendiri agar suara dari pesisir lebih didengar,” tuturnya.

Transformasi pola pikir inilah yang memang menjadi target utama penyelenggara.

Programme Specialist EDF, Meutia Isty, menekankan bahwa peserta tidak lantas dituntut menjadi jurnalis profesional semalam suntuk.

Fokus utamanya adalah menumbuhkan keberanian untuk memaksimalkan teknologi di genggaman.

“Kita berada di era borderless atau tanpa batas. Masyarakat yang secara fisik terisolasi dari hiruk-pikuk kota sekalipun, kini punya kekuatan untuk menjangkau khalayak luas dengan tulisan dan rekamannya.

“Tidak hanya di Lampung, tapi menembus hingga ke luar daerah,” pungkas Meutia.