Kirka – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal resmi memperkenalkan Puspa dan Muli Sikop, dua anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang lahir dari pasangan induk penyintas jerat pemburu, di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandarlampung, Jumat, 22 Mei 2026.
Kehadiran bayi kembar mamalia langka menjadi bukti kesuksesan program pengembangbiakan di luar habitat alami (ex-situ) perdana bagi wilayah Lampung.
“Alhamdulillah, lahirnya dua anak harimau yang sehat membuktikan upaya pelestarian satwa langka Indonesia masih memiliki harapan besar,” ujar Mirza saat meninjau langsung area perawatan.
Proses kelahiran berlangsung pada pertengahan Februari lalu.
Istri Gubernur, Purnama Wulan Sari Mirza, menamai satu bayi dengan panggilan Puspa.
Sementara saudaranya diberi nama Muli Sikop, ungkapan bahasa daerah yang bermakna gadis cantik.
Di balik peluncuran nama, kondisi fisik kedua induk menyita perhatian.
Pejantan bernama Kyai Batua dan sang betina, Sinta, harus melanjutkan hidup hanya dengan tiga kaki usai menjadi korban perburuan liar.
Tim medis terpaksa mengamputasi kaki kanan depan Kyai Batua saat evakuasi dari pedalaman hutan Lampung Barat pada 2019.
Sinta mengalami nasib serupa di Bengkulu pada akhir 2024, sehingga harus merelakan kaki kanan belakangnya dipotong sebelum masuk tahap rehabilitasi.
Melihat rekam jejak kelam sepasang induk penyintas cacat, Mirza menegaskan ranjau maut perburuan masih menjadi ancaman serius.
Menurutnya, perlindungan ruang hidup satwa liar menuntut tanggung jawab penuh dari seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Peringatan darurat kerusakan habitat disuarakan pula oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko.
Ia menyoroti oknum warga yang kerap memasang jerat kawat berdalih menangkap hama babi hutan.
“Perangkap liar tidak punya mata. Kalau harimau yang melintas, dampaknya memicu kecacatan bahkan kematian yang merugikan populasi alam,” kata Satyawan.
Demi menjaga keseimbangan ekosistem, Kementerian Kehutanan mendorong pengawasan ketat lintas sektor.
Satyawan mengajak jajaran pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, awak media, hingga pemengaruh publik merapatkan barisan menolak jerat maut.
Mengakhiri agenda kunjungan kerja, rombongan pemerintah daerah menyempatkan diri meninjau fasilitas perawatan satwa lain.
Gubernur Mirza tampak menyapa dan berfoto bersama Gajah Sumatera bernama Mega serta anak gajah, Rawana.






