Kirka – Penunjukan Provinsi Lampung sebagai tuan rumah bersama Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII 2032 membawa angin segar bagi perekonomian daerah.
Lebih dari sekadar panggung adu prestasi tingkat nasional, ajang empat tahunan diproyeksikan menjadi mesin pencetak perputaran uang dalam jumlah masif.
Peluang besar menyusul penetapan status penyelenggara langsung mengundang perhatian kalangan ahli.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Anggota Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung, Mahendra Utama, memandang perhelatan berskala besar sebagai momentum tepat untuk mengakselerasi kesejahteraan masyarakat lokal.
Ia merespons positif komitmen Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang bertekad menyebarkan semangat berolahraga ke seluruh pelosok daerah.
“Gagasan Pak Gubernur menularkan demam olahraga sangat baik.
“Namun, langkah utamanya adalah memastikan demam ekonomi ikut menjalar langsung ke kantong-kantong warga,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 22 Mei 2026.
Menjalarnya efek ekonomi bermula dari kedatangan puluhan ribu orang, mulai dari atlet, ofisial, hingga suporter.
Rombongan tamu dipastikan membelanjakan uang mereka selama berada di lokasi pertandingan.
Berdasarkan kajian pakar ekonomi olahraga John Crompton, kucuran dana segar dari pendatang otomatis menciptakan efek berganda melalui penciptaan lapangan kerja sementara dan lonjakan konsumsi domestik.
Dampak nyata dari teori perputaran uang pernah terbukti pada penyelenggaraan PON XX Papua 2021 silam.
Berdasarkan catatan resmi Badan Pusat Statistik (BPS), roda ekonomi selama acara berlangsung sukses berputar menyentuh angka Rp7,42 triliun dengan sektor penginapan, bisnis makanan, dan perdagangan ritel meraup keuntungan paling tinggi.
Mengacu pada rekam jejak Papua, potensi meraup omzet jauh lebih tinggi sangat terbuka lebar bagi Lampung.
Posisinya sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera membuatnya sangat mudah diakses lewat jalur darat, laut, maupun udara.
Keunggulan aksesibilitas geografis ditopang kuat oleh ketangguhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
“Akses masuk bagi pengunjung ke tempat kita jauh lebih gampang dan murah.
“Otomatis, sektor kuliner dan kerajinan tangan akan panen besar, bahkan potensinya melampaui pencapaian angka di Papua,” tuturnya.
Geliat bisnis selama masa pertandingan rupanya bisa berdampak panjang ke sektor pariwisata.
Deretan fasilitas maupun stadion baru yang dibangun pemerintah berpeluang besar dialihfungsikan sebagai pusat wisata olahraga bertaraf nasional di masa depan.
Meski menjanjikan masa depan cerah, Mahendra memberikan catatan penting bagi pemerintah daerah terkait tata kelola pasca acara.
Ia mengingatkan pentingnya menyusun tata ruang dan rencana bisnis agar gedung megah tidak mangkrak setelah penutupan.
“Harus ada strategi pemanfaatan aset jangka panjang.
“Jangan sampai bangunan baru bernasib buruk menjadi beban anggaran, dan pelaku usaha kecil tetap memiliki rantai pasok yang berkelanjutan ke depannya,” tegasnya.






