Hilirisasi Desa: Mengapa Bed Dryer Jadi Kunci Kedaulatan Pangan Lampung?

Hilirisasi Desa: Mengapa Bed Dryer Jadi Kunci Kedaulatan Pangan Lampung?
Mahendra Utama (kanan) Ketua Tim Monev untuk wilayah Selatan dan Barat. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Curah hujan tinggi tak lagi harus menjadi momok menakutkan bagi petani di Provinsi Lampung saat musim panen tiba.

Guna memangkas angka penyusutan hasil pertanian (losing) sekaligus mendongkrak nilai jual komoditas di tingkat tapak, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengeksekusi distribusi 34 unit mesin pengering tipe bak (bed dryer) melalui alokasi APBD 2025.

Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Pendamping Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menyebut kebijakan ini sebagai intervensi teknologi yang langsung menusuk ke akar persoalan pasca panen.

“Selama ini, petani kita selalu terdesak oleh tingginya kadar air pada gabah, jagung, maupun singkong.

“Ketergantungan absolut pada sinar matahari membuat kualitas panen rentan anjlok.

“Ujung-ujungnya, karena butuh uang cepat dan takut komoditas berjamur, mereka terpaksa melepas harga murah ke tengkulak,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Senin, 30 Maret 2026.

Menurut eksponen aktivis 98 itu, kehadiran mesin pengering mekanis tersebut bukan sekadar penyaluran bantuan alat biasa.

Udara panas yang dialirkan merata melalui ruang pengering memastikan hasil bumi mencapai standar kadar air yang diminta oleh pihak industri.

“Hukum ekonomi pertanian sangat lugas, kualitas menentukan harga jual. Lewat distribusi puluhan unit pengering ini, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal sejatinya sedang meletakkan fondasi hilirisasi langsung di pedesaan.

“Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) kini punya instrumen untuk memproduksi barang setengah jadi, bukan lagi sekadar pasrah menjual bahan mentah basah,” tegasnya.

Namun, Mahendra mengingatkan bahwa aset bernilai miliaran rupiah tersebut menuntut tata kelola yang akuntabel.

Oleh karena itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Provinsi Lampung, Zimmi Skill, telah menerjunkan tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) secara maraton sejak awal Maret lalu guna memastikan utilisasi alat berjalan maksimal.

Guna memperluas cakupan pengawasan, tim khusus ini dibelah ke dalam dua zonasi.

Mahendra sendiri didapuk memimpin tim evaluasi untuk wilayah Selatan dan Barat, sedangkan zona Tengah dan Utara dikomandoi oleh Ardiansyah.

“Kami turun langsung menyisir tujuh titik lokasi awal, mulai dari Kabupaten Lampung Selatan hingga Lampung Utara.

“Tim memetakan banyak hal, dari tingkat efektivitas mesin, kendala teknis lapangan, hingga kalkulasi riil biaya operasionalnya.

“Seluruh data ini akan diramu menjadi peta masalah sekaligus solusi presisi bagi pemerintah,” urai Mahendra.

Pemetaan komprehensif di lapangan tersebut dinilai amat krusial.

Pasalnya, hasil evaluasi tahun ini akan menjadi pijakan utama bagi rencana ekspansi Pemprov Lampung yang membidik pengadaan 80 hingga 100 unit bed dryer tambahan pada postur APBD 2026.

“Kebijakan jauh dari sekadar rutinitas belanja modal birokrasi, ini murni investasi kerakyatan yang terukur.

“Jika seratus titik fasilitas pengeringan beroperasi penuh tahun depan, Lampung siap melesat.

“Kita tidak lagi sebatas bangga menjadi lumbung pangan secara volume, tapi bertransformasi menjadi pusat keunggulan kualitas komoditas nasional,” pungkas Mahendra Utama.