Kirka – Keran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan stadion berskala mega proyek dipastikan tertutup.
Pemerintah pusat tak lagi mau jor-joran membiayai infrastruktur raksasa yang rawan mangkrak.
Lantas, bagaimana nasib ambisi Lampung yang tengah membidik status tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2032 bersama Banten?
Ketiadaan suntikan dana pusat rupanya tak membuat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung kehabisan akal.
Alih-alih meratapi nasib, Ketua Umum KONI Lampung, Taufik Hidayat, memilih langkah realistis namun taktis, yaitu memaksimalkan fasilitas eksisting.
“Pusat sudah menegaskan tidak ada lagi pembangunan stadion besar secara tiba-tiba menggunakan APBN seperti masa lalu.
“Jadi, kita maksimalkan apa yang kita punya di daerah,” tegas Taufik Hidayat, Rabu, 11 Maret 2026.
Strategi jemput bola pun dimainkan. Untuk mengakomodasi cabang olahraga (cabor) bela diri seperti karate hingga taekwondo, KONI siap menyulap Gedung Serba Guna (GSG) milik sejumlah kampus mapan di Bandarlampung.
Fasilitas indoor milik Universitas Lampung (Unila), Universitas Bandar Lampung (UBL), hingga UIN Raden Intan dinilai sangat mumpuni dan efisien untuk dijadikan venue standar nasional.
Tak hanya mengandalkan kampus, aset daerah yang lama tertidur juga kembali dilirik.
Lahan di kawasan Kota Baru yang selama ini terkesan dibiarkan, akan disulap menjadi episentrum olahraga luar ruang.
Rencananya, lapangan tembak sepanjang 600 meter serta area panahan dan berkuda akan dipusatkan di sana.
Langkah itu tak sekadar menyediakan arena tanding, tetapi juga membuka keran sport tourism baru bagi Lampung.
Meski bertumpu pada fasilitas yang sudah ada, bukan berarti pemerintah daerah lepas tangan.
Dukungan infrastruktur mandiri tetap disiapkan. Pemprov Lampung dan Pemkot Bandarlampung kini tengah mematangkan rencana pembangunan sport center berskala daerah dan stadion baru, yang ditargetkan mulai groundbreaking pada 2026 atau selambatnya 2027 mendatang.
Langkah pragmatis tersebut membuktikan bahwa keterbatasan dana bukanlah jalan buntu.
Di tangan pengurus yang jeli, fasilitas kampus dan lahan tidur pun bisa disulap menjadi panggung pembinaan prestasi para jawara.






