KIRKA – Film A Twelve-Year Night (2018) bercerita tentang masa kelam kediktatoran Militer di Uruguay di Tahun 1973. Rezim diktator Juan Maria Bordabery berlaku brutal dengan menangkap para anggota dan pimpinan gerilyawan Tupamaro dan menjebloskan nya ke penjara tanpa proses hukum yang jelas.
Tumpakmaro adalah gerilyawan Marxisme Uruguay yang sangat populer dan dianggap sebagai Robin Hood oleh masyarakat Uruguay. Tumpamaro kerap melakukan aksi pembobolan bank dan hasil nya dibagikan ke rakyat miskin.
Naasnya, aksi-aksi revolusioner Tumpamaro harus berhenti ditangan besi pemerintahan Militer. Rakyat kehilangan pahlawannya namun pemerintah mendapatkan musuh besarnya. Dan pada tahun 1984 demokrasi akhir nya kembali ke Uruguay.
Fokus cerita Film Twelve-Year Night adalah kisah kelam tiga anggota Tupamaro Jose Mujica (Antonio de la Torre), Mauricio Rosencof (Chino Darin) dan Eleuterio Fernandez Huidobro (Alfonso Tort) yang selamat dan bertahan hidup selama 12 tahun dalam siksaan penjara politik yang kejam.
Sejak awal hingga Film berakhir kita disuguhkan kejamnya penjara politik rezim diktator militer Uruguay. Adegan penangkapan, penyekapan, penyiksaan dan pemindahan penjara menjadi makanan rutin ketiga orang tersebut selama 12 Tahun.
Hanya sesekali keluarga yang bersangkutan bisa menjengguk itupun akibat tekanan publik dan internasional. Bahkan dramatisasi penjara pun dilakukan. Sang tahanan diperlakukan baik bila ada kunjungan dari lembaga internasional. Setelahnya kehidupan penjara kembali seperti sedia kala. Miris bukan.
Siksaan fisik dan psikis yang diterima ketiga orang tersebut tak membuat mereka gentar. Harapan akan kebebasan, keyakinan dan dukungan keluarga lah yang menguatkan mereka untuk bertahan hidup dalam gelapnya penjara hingga 12 tahun kemudian. Bahkan, siksaan dan suasana penjara hampir membuat Pepe Mujica gila. Namun dukungan sang Ibu dalam kunjungan nya menjadi vitamin bagi diri nya. “Hanya orang yang sudah kalah yang berhenti melawan” itulah nasehat sang Ibu Kepada Pepe Mujica.
Kelak, kehidupan kelam sebagai tahanan politik akhirnya membentuk karakter dan watak ketiga orang tesebut. Ya, ketiga nya akhir nya menjadi pemimpin hebat di Uruguay. Nato menjadi politikus dan menteri pertahanan Uruguay, Rosencof menjadi jurnalis tenar yang karyanya diakui dan Pepe Mujica menjadi presiden Uruguay.
Film Uruguay arahan Alvaro Brechner telah memenangi banyak penghargaan Internasional ini layak ditonton agar kita mengetahui betapa indahnya arti sebuah kebebasan (demokrasi). Dan betapa kelamnya hidup dibawah rezim diktator militer. Film tayang di Netflix sejak 28 Desember 2018.






