Kirka – Beban distribusi barang menyusuri Lintas Barat Sumatera, khususnya dari arah Pesisir Barat dan Tanggamus, dinilai sudah melampaui kapasitas ideal.
Menjawab hambatan bentang alam kawasan ujung selatan Sumatera, Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama melempar gagasan pembukaan rute kapal feri dari Krui menuju Pelabuhan Bakauheni.
Fakta di lapangan menunjukkan pergerakan armada truk ekspedisi bermuatan 20 ton membutuhkan waktu hingga 14 jam membelah jarak dari Krui menuju Bakauheni.
Sopir angkutan berat dipaksa menaklukkan jalur ekstrem berbukit, terutama saat melewati kawasan turunan curam Sedayu.
Medan jalan darat rupanya memicu kerugian berlapis bagi para pelaku usaha ekspedisi.
Selain mempercepat keausan komponen pengereman truk, intensitas lintasan kendaraan berat terus mempercepat degradasi aspal jalan nasional.
Sebagai jalan keluar, Mahendra menyodorkan opsi pelayaran KMP Ferry melintasi rute Krui – Kota Agung – Panjang – Bakauheni pergi pulang.
Kapal berkecepatan 10 hingga 12 knot diproyeksikan sanggup merampungkan perjalanan meretas lautan dalam rentang 14 sampai 16 jam.
“Tol laut menawarkan keunggulan berupa kepastian waktu atau time certainty, keamanan muatan, serta bebas dari risiko kemacetan lalu lintas maupun jalan rusak,” kata Mahendra Utama, Senin, 3 Agustus 2026.
Walau memakan durasi serupa dengan jalur darat, skema maritim memegang peranan penting menekan potensi kerugian ekonomi.
Mengacu pendekatan Spatial Economics dari Walter Isard, Mahendra mengingatkan efisiensi alokasi sumber daya sangat terikat pada penurunan biaya jarak.
Selama komoditas niaga dipaksa melewati rute berbahaya berisiko tinggi, harga jual barang di pasaran otomatis meroket tajam hanya untuk menambal tingginya ongkos penyusutan truk pengangkut.
“Transportasi maritim memiliki fungsi pemutus efisiensi jarak yang tidak mampu disediakan oleh jalur darat bergelombang,” tegasnya.
Integrasi rute pelayaran niaga, lanjut dia, kelak diyakini mengubah peta konektivitas Pesisir Selatan Lampung secara menyeluruh.
“Para pemilik modal dan pengusaha tidak perlu lagi cemas membayangkan armada truk mereka terguling ke jurang, sementara roda pasokan logistik tetap berputar menyuplai kebutuhan masyarakat secara konsisten,” pungkasnya.






