Kirka – Produksi durian di Provinsi Lampung menembus 57.670 ton sepanjang tahun 2025.
Angka fantastis yang menempatkan daerah di ujung selatan Sumatera pada urutan keenam nasional rupanya menyisakan ironi.
Ribuan ton buah berduri mayoritas masih mengalir ke pasar dalam kondisi segar, membuat potensi keuntungan dari sektor hilir menguap begitu saja.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama menilai fenomena minimnya Industri Kecil Menengah (IKM) olahan durian sebagai peluang emas yang dibuang.
Petani lokal, kata dia, masih berkutat pada pola penjualan konvensional.
Padahal preferensi konsumen sekarang perlahan bergeser mencari produk turunan buah tropis seiring meningkatnya minat pada variasi pangan kekinian.
“Sayang sekali puluhan ribu ton buah unggulan hanya beredar dalam wujud utuh tanpa sentuhan kreativitas,” papar Mahendra, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Ia lantas mencontohkan keistimewaan duri hitam asal Lampung Barat yang nilai jualnya mampu menembus Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per butir.
Belum lagi varietas andalan Waykanan dengan ciri khas daging tebal serta manis legit.
Bila tersentuh proses hilirisasi, pamor komoditas lokal bakal meroket lewat wujud baru seperti dodol, es krim, pancake, bahkan tempoyak premium bermargin tinggi.
Untuk membuktikan bisnis olahan sangat masuk akal dijalankan, Mahendra menjadikan kiprah Shafila Ambya Kirana sebagai tolak ukur.
Mahasiswi UIN Raden Intan Lampung sukses meruntuhkan anggapan bahwa merintis usaha mutlak butuh suntikan dana besar.
Shafila meraup untung dari penjualan perdana pancake murni mengandalkan skema prapesan.
“Awalnya tidak pakai modal sama sekali. Kami sekadar mengambil barang dari pihak lain, lalu membuka sistem pesanan awal,” ungkap Shafila.
Usaha rintisannya kini kebanjiran pembeli partai besar dari kawasan Bandarlampung sampai Pringsewu.
Kreativitas menggarap pasar serupa sejatinya sudah bermunculan di sejumlah pelosok.
Kelompok remaja dan ibu rumah tangga di Desa Pala Gajah, Lampung Utara berhasil menyulap limbah biji durian menjadi donat lembut berdaya jual.
Warisan kuliner turun-temurun seperti tempoyak pun punya kans merajai pasar ritel bila dikemas secara profesional.
Merespons potensi kekayaan alam desa, langkah konkret mulai diterapkan di tingkat pekon.
Lewat alokasi Dana Desa 2025, Peratin Pekon Kagungan di Lampung Barat, Ali Rahman memfokuskan program penanaman bibit duri hitam.
Sasarannya melampaui panen raya musiman, yakni mencetak kawasan agrowisata terpadu sekaligus pusat IKM olahan lokal.
Bagi Mahendra, komoditas unggulan daerah bukan sekadar buah yang jatuh dari dahan lalu dijual murah ke tengkulak.
“Ada ekosistem ekonomi utuh menanti digarap. Bahan bakunya sudah berlimpah, pasarnya terbuka lebar.
“Sekarang tinggal bagaimana keberanian kita mengeksekusi peluang yang lama terabaikan,” pungkasnya.






