Kirka – Reputasi Uni Emirat Arab (UEA) sebagai surga perlindungan yang aman dari gejolak Timur Tengah perlahan mulai runtuh.
Eksponen 98, Mahendra Utama, membedah perubahan drastis sikap Abu Dhabi yang kini terpaksa mengambil keputusan sulit di tengah pusaran perseteruan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Menurut Mahendra, pada fase awal ketegangan, pemerintahan Emirat berupaya keras menjaga jarak dan bersikap netral.
Tapi, rentetan serangan yang mulai menyasar wilayah kedaulatan mereka menyadarkan Abu Dhabi bahwa hidup berdampingan dengan rezim garis keras Iran bukan lagi pilihan realistis.
“Sikap netral perlahan bergeser. Setelah mendapat serangan, UEA menyadari betul ancaman nyata dari kelompok garis keras, sehingga mereka terpaksa merumuskan langkah baru,” ungkap Mahendra Utama, Senin, 27 Juli 2026.
Fakta di lapangan sejalan dengan analisis Mahendra.
Meski secara resmi membantah keterlibatan aktif, berbagai laporan intelijen mengungkap adanya koordinasi senyap antara UEA, Washington, dan Tel Aviv.
Sinergi tiga pihak bermuara pada upaya memuluskan operasi udara menyasar target-target militer Iran.
Bahkan, Menteri Israel Miri Regev secara terang-terangan mengakui keterlibatan Abu Dhabi dalam membantu mencegat peluncuran rudal balistik Teheran.
Sebagai bentuk jaminan perlindungan balik, militer Israel langsung mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta pasukan khusus ke wilayah Emirat.
Perubahan konstelasi keamanan menimbulkan perhatian luas dari kalangan akademisi.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (UPH), Edwin Martua Bangun Tambunan, memandang Timur Tengah bak barometer hegemoni Amerika Serikat.
Alasannya jelas, kawasan jazirah Arab memegang kendali atas komoditas paling diburu dunia, yakni minyak bumi.
Berbekal cadangan minyak raksasa, UEA otomatis terseret ke tengah papan catur perebutan kekuasaan antar negara adidaya.
Ancaman Merambat ke Dapur Indonesia
Lebih jauh, letupan senjata di Timur Tengah membawa efek domino yang sangat panjang.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa setiap gejolak geopolitik di negara produsen minyak selalu memukul pergerakan harga energi global.
Berdasarkan data pasar terbaru, harga minyak dunia merangkak naik menyentuh level 72 hingga 73 dolar AS per barel.
Efek rambatannya berpotensi menghantam langsung struktur ekonomi masyarakat Indonesia.
Jika tren kenaikan berlanjut, beban subsidi energi pada APBN dipastikan melonjak tajam, membuka peluang pembengkakan biaya migas, hingga ancaman antrean panjang di berbagai SPBU seluruh penjuru Nusantara.
Menyikapi rentetan dampak ganda, Mahendra Utama menyimpulkan bahwa Abu Dhabi tengah terperangkap dalam dilema keamanan (security dilemma) tingkat tinggi.
Upaya membangun poros pertahanan bersama Israel demi mengimbangi kekuatan militer Iran justru mendatangkan risiko kehancuran di depan mata.
“Membangun poros dengan Israel memang merupakan ikhtiar mengimbangi kekuatan Iran. Namun konsekuensi logisnya, UEA langsung menjadi target serangan terbuka.
“Ketegangan sekarang sudah memasuki fase eskalasi kedua dengan taruhan sangat besar, bukan hanya bagi arsitektur keamanan Timur Tengah, tetapi juga nasib jalur suplai energi global,” pungkas Mahendra.






