Dubai dan Abu Dhabi di Tengah Perang Iran-Israel: Antara Ancaman Rudal dan Kehidupan Normal

Dubai dan Abu Dhabi di Tengah Perang Iran-Israel: Antara Ancaman Rudal dan Kehidupan Normal
Eksponen 98, Mahendra Utama, memberikan pandangannya terkait stabilitas keamanan dan rutinitas warga Uni Emirat Arab yang tak tergoyahkan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Bentrokan militer yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) kini menempatkan Dubai serta Abu Dhabi dalam jangkauan serangan udara.

Dua kota di Uni Emirat Arab (UEA) yang selama bertahun-tahun menjadi simbol stabilitas ekonomi kawasan Teluk itu mulai merasakan dampak langsung dari memanasnya pertempuran di Timur Tengah.

Eksponen 98 Mahendra Utama menilai, kondisi di UEA saat ini memperlihatkan fenomena yang terbilang unik.

Di satu sisi terdapat ancaman bahaya yang nyata, namun di sisi lain dinamika ekonomi dan keseharian warga tampak berjalan biasa saja.

“Sejak serangan militer memuncak pada 28 Februari 2026 lalu, posisi UEA tak lagi berada di luar pusaran konflik,” ujar Mahendra, Senin, 27 Juli 2026.

Otoritas keamanan Teheran secara terbuka mengancam bakal menyasar fasilitas vital seperti Bandara Internasional Dubai (DXB), Bandara Abu Dhabi, hingga Pelabuhan Fujairah dan Jebel Ali apabila infrastruktur sipil Iran diserang balik oleh sekutu.

Ancaman tersebut terbukti bukan gertakan semata.

DXB yang memegang predikat sebagai salah satu simpul penerbangan tersibuk di dunia berulang kali menjadi sasaran gempuran.

Dampaknya langsung menghantam sektor transportasi udara.

Sepanjang triwulan pertama 2026, jumlah penumpang DXB merosot 20,6 persen menjadi 18,6 juta orang.

Kendati demikian, denyut nadi kehidupan di lapangan belum lumpuh.

Keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di UEA menyebutkan sektor transportasi, distribusi logistik, dan aktivitas pusat perbelanjaan tetap beroperasi tanpa hambatan berarti.

Situasi yang relatif terkendali ini ditopang oleh kinerja sistem pertahanan udara setempat.

Sejak akhir Februari lalu, pertahanan UEA dilaporkan berhasil melumpuhkan lebih dari 2.800 proyektil bahaya.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (NCEMA) UEA menegaskan, sebagian besar ancaman udara berhasil dicegat sebelum menembus ruang udara domestik, sehingga dampak kerusakan dapat diminimalkan.

Menjelaskan fenomena itu, Mahendra Utama mengaitkannya dengan konsep keamanan manusia (human security) yang dicetuskan Profesor Ken Booth.

“Jaminan keselamatan publik bukan cuma diukur dari ada atau tidaknya pertempuran, melainkan sejauh mana warga negara bisa tetap menjalankan kehidupan harian secara wajar di tengah situasi yang penuh ketidakpastian,” tutur Mahendra.

Penerapan konsep terlihat dari pendekatan otoritas UEA di lapangan.

Pemerintah setempat sengaja memodifikasi sistem peringatan dini agar tidak memicu ketakutan massal.

Warga hanya diminta menjauhi area terbuka serta jendela kaca setiap kali sinyal bahaya berbunyi.

Meski rutinitas warga masih berlangsung normal, tingkat risiko di kawasan Teluk tetap tergolong tinggi.

Peringatan keamanan yang terus diperbarui oleh Kedutaan Besar AS dan Australia menegaskan bahwa potensi eskalasi susulan dapat terjadi sewaktu-waktu.