Kirka – Kopi robusta asal Lampung tidak hanya mendominasi pasar domestik, tetapi juga sukses menjadi tulang punggung ekspor nasional.
Sepanjang 2024, lebih dari separuh total ekspor kopi Indonesia disumbang dari daerah ini dengan nilai transaksi menembus 840 juta dolar AS.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai tingginya angka produksi dan ekspor tersebut bukanlah hasil instan.
Status Lampung sebagai lumbung kopi terbesar di Tanah Air lahir dari proses panjang dan ketahanan petani dalam merespons krisis di masa lalu.
Sejarah mencatat, perkebunan arabika yang pertama kali diperkenalkan pada 1841 sempat hancur lebur akibat letusan Gunung Krakatau 1883, yang kemudian diperparah oleh wabah penyakit karat daun.
“Alih-alih menyerah, petani kita saat itu merespons keadaan dengan beralih ke varietas robusta.
“Tanah vulkanik sisa erupsi Krakatau ternyata menjadi medium tanam paling ideal yang hasilnya bisa kita nikmati hingga sekarang,” kata Mahendra, Senin, 13 Juli 2026.
Fakta di lapangan sejalan dengan analisis tersebut.
Tahun lalu, volume produksi robusta di Provinsi Lampung menembus 141.918 ton, bertumpu pada hasil panen dari Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, membenarkan besarnya kontribusi komoditas ini terhadap devisa negara.
Ia menyebutkan, total ekspor kopi nasional tahun lalu melonjak tajam hingga 76,33 persen.
“Dari lonjakan ekspor tersebut, lebih dari 51 persen asalnya dari Lampung,” ujar gubernur.
Namun, tingginya volume pengiriman ke luar negeri masih menyisakan ironi di tingkat lokal.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar panen dijual keluar daerah dalam bentuk biji mentah.
Akibatnya, masyarakat setempat kerap harus membeli produk jadi dari pabrikan luar dengan harga yang lebih mahal.
Merespons kondisi tersebut, pemerintah daerah kini memfokuskan strategi pada program hilirisasi.
Gubernur meyakini pengolahan produk secara mandiri akan mendongkrak perekonomian warga secara drastis.
“Begitu hilirisasi berjalan, nilai tambah satu gelas kopi bisa naik sampai 10 kali lipat,” tegasnya.
Peta jalan hilirisasi itu perlahan mulai terealisasi. Pada September 2025, ditargetkan ada pengiriman 6.368 kilogram kopi bubuk olahan ke Hong Kong senilai hampir 46 ribu dolar AS.
Kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal kini juga mulai membidik pasar Amerika Serikat untuk ekspansi lanjutan.
Bagi Mahendra Utama, keberanian UMKM menembus pasar global sekaligus mengukuhkan kualitas produk lokal yang sejatinya sudah teruji zaman.
Ia mencontohkan eksistensi merek Sinar Baru Cap Bola Dunia yang mampu bertahan melintasi generasi sejak 1917.
“Kopi Lampung sudah bertransformasi dari sekadar komoditas mentah menjadi identitas ekonomi dan budaya.
“Momentum ekspor produk jadi ini harus memotivasi pengusaha lain bahwa produk lokal kita punya daya saing yang sangat kuat di pasar global,” tutup Mahendra.






