Membidik Pasar Thailand dari Pesisir Mesuji dan Tulang Bawang

Membidik Pasar Thailand dari Pesisir Mesuji dan Tulang Bawang
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan peluang strategis komoditas kakap putih liar asal perairan Mesuji dan Tulang Bawang untuk merebut pasar ekspor Thailand. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Mandeknya keran suplai kakap putih dari Penang, Malaysia, menuju Thailand belakangan waktu terakhir membawa angin segar bagi sektor perikanan Provinsi Lampung.

Kekosongan pasokan tersebut memunculkan peluang besar bagi komoditas tangkapan alam asal perairan pesisir Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang untuk mengambil alih pasar.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai dinamika pasar global saat ini harus direspons cepat oleh pemerintah daerah maupun pelaku usaha.

Ia menyebutkan, kawasan pesisir seperti Kecamatan Mesuji Timur, Mesuji Utara, serta Rawa Jitu Selatan sudah lama menjadi lumbung penghasil kakap putih dan udang galah berkualitas tinggi.

“Keunggulan utama produk kita ada pada statusnya sebagai tangkapan alam liar, bukan hasil budidaya.

“Artinya, ikan dari perairan pesisir bebas dari kontaminasi antibiotik,” kata Mahendra di Bandarlampung, Senin, 13 Juli 2026.

Kelebihan natural tersebut, lanjutnya, memiliki daya tawar tinggi sekaligus sangat dicari oleh konsumen internasional, terutama Thailand yang belakangan makin ketat menerapkan standar keamanan pangan.

Meski peluang terbuka lebar, ambisi menembus pasar mancanegara tetap menuntut kesiapan infrastruktur dasar.

Mahendra mendorong arah kebijakan pembangunan daerah segera difokuskan pada penguatan sistem logistik rantai dingin (cold chain).

Kapasitas pasokan ekspor juga akan lebih stabil jika pemerintah merangkul wilayah pesisir lain.

Menurutnya, potensi laut di Tanggamus, Lampung Timur, hingga Pesawaran sangat layak diintegrasikan ke dalam satu rantai suplai terpadu.

Lebih jauh, nelayan dan pengusaha lokal diminta tidak lagi sebatas mengirim bahan baku mentah.

Hilirisasi mutlak diperlukan lewat pembangunan fasilitas pengolahan ikan bersertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang lokasinya berdekatan dengan sentra tangkapan di Mesuji dan Tulang Bawang.

Standardisasi ketat bertujuan agar ikan dari Lampung diakui aman, berstatus premium, dan mampu menembus proteksi biosekuriti negara tujuan.

Peluang ekspansi dan tantangan infrastruktur itu juga langsung mendapat perhatian jajaran Pemerintah Provinsi Lampung.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan kesiapan penuh membenahi tata niaga perikanan tangkap di wilayahnya menuju arena persaingan kancah dunia.

“Pemerintah akan bertindak sebagai kolaborator aktif sekaligus penata bagi semua pihak.

“Kita wajib menggabungkan kekuatan investasi swasta dan menjaga kualitas produk perikanan darat maupun laut melalui regulasi tata kelola yang ramah bisnis,” tegas Gubernur Mirza.

Orang nomor satu di Provinsi Lampung itu berharap, lewat skema kemitraan yang terarah, hasil tangkapan nelayan lokal mampu menembus standardisasi internasional secara berkesinambungan dan menjadikan pesisir Lampung sebagai tulang punggung baru ekspor perikanan nasional.