Kirka – Menyandang status sebagai sekadar daerah lumbung pangan tampaknya tak lagi cukup bagi Provinsi Lampung.
Bumi Ruwa Jurai perlahan mulai memutar haluan ekonominya menuju visi yang lebih besar yaitu menjadi pusat industri agro tingkat nasional.
Menariknya, mesin penggerak utama transformasi tersebut tidak dibangun di kawasan industri megah, melainkan bermula langsung dari desa.
Pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, memandang pergeseran strategi tersebut sebagai sebuah keharusan.
Mengacu pada postur perekonomian daerah sepanjang 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung menembus Rp483,88 triliun, di mana sektor pertanian masih merajai dengan sumbangsih mencapai 26,21 persen.
“Dengan porsi sebesar itu, ruang untuk menciptakan nilai tambah komoditas agraris masih sangat luas dan belum digarap maksimal,” kata Mahendra, Minggu, 12 Juli 2026.
Secara teoritis, ia memaparkan bahwa hilirisasi memaksa sebuah wilayah untuk berhenti bergantung pada jebakan ekspor komoditas mentah.
Konsep usang tentang keunggulan komparatif sudah saatnya digeser menjadi keunggulan kompetitif.
Hasil bumi tidak lagi langsung dijual usai panen, melainkan harus melewati tahap pengolahan awal guna mendongkrak daya tawar di rantai pasok global.
Gagasan sang pemerhati rupanya sejalan dengan langkah taktis yang tengah digulirkan Pemerintah Provinsi Lampung di lapangan.
Perlahan namun pasti, intervensi teknologi pasca panen mulai diturunkan ke kantong-kantong produksi pertanian, salah satunya lewat distribusi mesin pengering atau dryer.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mematok target berani dengan menyebar 500 unit dryer hingga tahun 2028 mendatang.
Realisasinya sudah berjalan bertahap, mulai dari 34 unit pada 2025, yang kemudian disusul alokasi 82 unit sepanjang 2026.
Tujuannya sederhana namun berdampak panjang, tak lain memastikan proses pengeringan gabah hingga jagung selesai di tingkat tapak agar margin keuntungannya tetap mengalir ke kantong masyarakat lokal.
Agar pengadaan sarana tersebut tidak berujung mangkrak, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung menerapkan filter ketat.
Kepala Disperindag, M. Zimmi Skil, menjamin mesin bernilai tinggi tersebut hanya mendarat di tangan kelompok tani yang benar-benar siap.
“Penerima bantuan dryer dipilih melalui proses seleksi yang transparan.
“Kami sangat mempertimbangkan kesiapan kelompok tani, baik dalam hal pengoperasian secara teknis maupun pemanfaatan mesin ke depannya,” tegas Zimmi.
Fasilitas fisik tersebut belakangan mulai dikawinkan dengan sejumlah program pemberdayaan ekonomi nasional, seperti Desaku Maju maupun Desa BRILiaN.
Sinergi lintas sektoral dirancang agar basis ekonomi kerakyatan mampu tumbuh mandiri dan berkelanjutan.
Fokus pengembangannya pun terus diperluas. Zimmi menekankan bahwa dorongan nilai tambah tidak hanya berhenti pada komoditas padi dan jagung.
“Berbagai komoditas unggulan lain seperti singkong hingga kopi juga terus didorong untuk ditingkatkan nilai tambahnya.
“Kami kawal mulai dari hulu di proses produksi, sampai ke pengembangan hilirisasinya,” tambahnya.
Pada akhirnya, seperti yang ditekankan Mahendra Utama, mengubah wajah Lampung menjadi poros agroindustri butuh waktu dan strategi terukur.
Namun, dengan meletakkan mesin pengolah dan mencetak nilai tambah langsung dari desa, fondasi kemandirian ekonomi daerah tersebut jelas sudah mulai dibangun.






