Kirka – Pola pembinaan olahraga bola tangan di Provinsi Lampung perlahan mulai merombak tradisi lamanya.
Meninggalkan format turnamen instan, Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Provinsi Lampung kini menginisiasi kompetisi berjenjang layaknya liga profesional lewat ajang Handball Series I tingkat pelajar di GOR CFC Rajabasa, Bandarlampung, 9–11 Juni 2026.
Perubahan arah kiblat pembinaan ini bukan tanpa alasan.
Ketua ABTI Provinsi Lampung, Yopi Hutomo Bhakti, mengakui bahwa pola turnamen singkat yang selama ini dianut terbukti kurang efektif untuk mengukur apalagi menjaga konsistensi performa atlet usia dini.
“Penyakitnya dari dulu selalu sama, selesai bertanding dan angkat trofi, ya selesai pula pembinaannya.
“Karena itu, kami mulai membangun format series yang berkelanjutan.
“Harapannya, jam terbang anak-anak terus bertambah dan radar pemantauan bakat kita bisa lebih tajam,” ungkap Yopi, Selasa, 9 Juni 2026.
Konsep series itu didesain bergulir dalam tiga tahapan.
Seri perdana yang tengah berlangsung saat ini khusus menyaring potensi pelajar SMP dan SMA di wilayah Kota Bandarlampung.
Ke depan, seri kedua akan berekspansi dengan mengundang tim dari berbagai kabupaten/kota yang telah mengantongi SK kepengurusan cabang.
Puncaknya, seri ketiga akan menjadi medium penyaringan akhir sebelum para atlet diterjunkan bertarung di level nasional.
Optimisme ABTI memutar roda kompetisi panjang sejalan dengan makin memasyarakatnya olahraga bola tangan di sekolah-sekolah.
Menariknya, geliat di level akar rumput banyak dipelopori oleh kalangan akademisi.
Mahasiswa program studi pendidikan jasmani dari berbagai kampus kerap turun gelanggang, blusukan untuk mengenalkan sekaligus melatih teknik dasar bola tangan kepada para pelajar.
Tentu, memanasnya iklim kompetisi di lapangan menuntut kesiapan elemen pendukung lainnya.
Oleh sebab itu, selain menempa fisik dan mental atlet, ABTI Lampung kini juga tengah mengejar standardisasi lisensi pelatih dan wasit menjelang perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Lampung 2026 mendatang.
Semua kepingan puzzle pembinaan ini pada akhirnya bermuara pada satu target besar, yakni merebut tiket Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Lebih jauh lagi, para pelajar yang hari ini jatuh bangun di GOR CFC tengah disiapkan sebagai tulang punggung kerangka tim utama saat Lampung didapuk menjadi tuan rumah bersama pada PON 2032.
Bukti bahwa sistem baru tersebut sukses memantik gairah sekolah langsung terlihat dari tingginya angka partisipasi.
Ketua Harian ABTI Kota Bandarlampung, Atasa Manggara Aru, menyebut ada 39 tim yang siap bersaing sengit memperebutkan poin penuh dalam format round robin selama tiga hari berturut-turut.
Rinciannya, arena pertarungan akan diisi oleh 19 tim kategori SMA putra, 8 tim SMA putri, 9 tim SMP putra, dan 3 tim SMP putri.
“Animo peserta didik sangat di luar dugaan kami. Kami berharap tata kelola event ini dari seri ke seri akan semakin rapi dan matang.
“Jika ekosistem pembinaannya sudah jalan, saya sangat yakin atlet bola tangan dari Lampung kelak tidak hanya menumpang lewat di pentas nasional,” pungkas Atasa.






