Kirka – Kembalinya Kereta Api (KA) Limex Sriwijaya di jalur Tanjungkarang–Kertapati bukan sekadar merawat memori moda transportasi darat.
Lewat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 39 Tahun 2025, rute penghubung dua provinsi di ujung Pulau Sumatera itu hidup kembali dan diproyeksikan menjadi urat nadi baru pendorong ekonomi daerah.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai pengoperasian kembali KA Limex membawa efek ganda bagi perputaran uang di kedua wilayah.
Ia merujuk pada hasil riset Bank Dunia (2023) yang mencatat penguatan konektivitas rel di koridor ekonomi sekunder sanggup mengerek Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hingga 1,2 persen.
“Penerbitan izin dari Kementerian Perhubungan menjadi injeksi langsung bagi perekonomian lokal.
“Rel kereta tidak lagi sekadar menyambungkan stasiun, melainkan jalur distribusi yang membawa komoditas unggulan langsung ke pasar pembeli,” kata Mahendra, Senin, 18 Mei 2026.
Kepastian legalitas operasional moda angkutan tersebut sebelumnya dibenarkan oleh Manager Humas KAI Divre IV Tanjungkarang, Azhar Zaki Assjari.
Pengaktifan kembali jadwal perjalanan Limex Sriwijaya sudah tertuang resmi dalam lembar keputusan menteri.
Bagi pelaku usaha, lintasan baja ratusan kilometer itu menghadirkan simbiosis mutualisme.
Mahendra mencontohkan, hasil bumi andalan Lampung seperti kopi robusta, lada, hingga nanas kini mendapat jalur distribusi alternatif yang jauh lebih ringkas menuju Sumatera Selatan.
Pada saat bersamaan, komoditas berat asal Sumatera Selatan macam batu bara dan karet mendapat akses cepat menuju Pelabuhan Panjang di Bandarlampung.
Skema pengangkutan langsung lewat jalur rel otomatis memangkas biaya logistik yang kerap mencekik pengusaha akibat kendala infrastruktur jalan raya.
Secara statistik, sektor transportasi menyumbang porsi lumayan besar bagi kantong daerah.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat sumbangsih sektor angkutan terhadap PDRB Lampung bertengger di angka 4,7 persen, sedangkan Sumatera Selatan mencapai 5,1 persen.
Peluang pelebaran pendapatan lewat pergerakan kereta juga ditangkap Pemerintah Provinsi Lampung.
Kepala Bappeda Lampung, Anang Risgiyanto, menyebut perbaikan konektivitas antardaerah bakal menekan ketimpangan fiskal.
Pemprov kini berfokus membenahi jalan-jalan strategis guna mempermudah mobilitas barang maupun penumpang dari dan menuju stasiun pemberhentian.
Meski menjanjikan perputaran uang dalam jumlah besar, jalan meraup untung dari layanan KA Limex sangat bergantung pada kualitas operasional di lapangan.
Moda angkutan rel tetap harus bersaing ketat dengan bus travel serta armada truk yang lebih dulu menguasai jalan lintas Sumatera.
Tarif tiket dan ongkos kargo harus dipastikan ramah di kantong pelaku UMKM.
Pengamat Transportasi Universitas Sriwijaya, Melawaty Agustien, turut mewanti-wanti pentingnya ketepatan jadwal dan integrasi angkutan pengumpan.
“Menghidupkan lagi stasiun akan sia-sia kalau pelayanannya buruk serta akses dari pusat kota menuju stasiun malah menyulitkan masyarakat,” ujarnya.
Melihat tantangan operasional ke depan, Mahendra Utama mendorong lahirnya kolaborasi kebijakan lintas sektor.
Pemerintah daerah, operator perkeretaapian, dan pelaku bisnis harus merumuskan strategi bersama.
“Reaktivasi KA Limex adalah pemantik. Bila dikelola sungguh-sungguh, gelombang perputaran uangnya sanggup menghidupkan simpul-simpul produktif dari ujung selatan Sumatera hingga Palembang.
“Jangan sampai rel sekadar membentang tanpa benar-benar menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ucap Mahendra memungkasi.






