Mesuji Jauh di Peta, Tapi Dekat di Hati Gubernur dan Wagub Lampung

Mesuji Jauh di Peta, Tapi Dekat di Hati Gubernur dan Wagub Lampung
Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, menilai dimulainya proyek jalan Brabasan-Wiralaga senilai Rp94,2 miliar sebagai bukti nyata komitmen pemerataan infrastruktur Gubernur Mirza dan Wagub Jihan di Kabupaten Mesuji. Foto: Arsip pribadi/Wiki/Kirka/I

Kirka – Paradigma pembangunan Provinsi Lampung perlahan bergeser dari sekadar mempercantik kawasan pusat kota menuju pembenahan infrastruktur wilayah perbatasan.

Kabupaten Mesuji, yang berlokasi di ujung timur, mulai mendapat porsi anggaran bernilai besar serta penanganan langsung dari pasangan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela.

Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, menyebut pola kerja pimpinan daerah saat ini mendobrak kebiasaan birokrasi lama.

“Ada pergeseran orientasi yang sangat tegas. Mesuji posisinya amat jauh di peta, tetapi sekarang mendapat intervensi nyata, bukan lagi sebatas janji manis kampanye,” kata Mahendra, Jumat, 8 Mei 2026.

Pernyataannya merujuk pada kegiatan pemancangan tiang pertama proyek perbaikan ruas jalan Brabasan–Wiralaga senilai Rp94,2 miliar yang dipimpin langsung oleh Gubernur Mirza sehari sebelumnya.

Akses darat sepanjang 29,4 kilometer merupakan urat nadi perekonomian warga, terutama untuk mendistribusikan hasil panen komoditas kelapa sawit dan karet.

Selama bertahun-tahun, 8,6 kilometer lintasan aspal hancur parah sehingga memicu ekonomi biaya tinggi.

Mahendra menilai target penyelesaian jalan mantap 100 persen pada akhir 2026 merupakan keputusan tepat demi memangkas kendala logistik distribusi hasil bumi.

Catatan publik menunjukkan, sang Gubernur sudah dua kali meninjau langsung progres perbaikan kawasan Mesuji hanya dalam rentang waktu enam bulan.

Pembangunan fisik secara paralel diimbangi pendekatan kemanusiaan.

Mahendra mencontohkan tindakan cepat Wagub Jihan Nurlela kala menangani masalah sosial di Register 45, Desa Karya Jaya, pada akhir Oktober 2025 lalu.

Saat itu, publik dikejutkan oleh peristiwa seorang ibu keluarga pra-sejahtera merantai anak kandungnya akibat desakan beban hidup dan tekanan psikologis.

Penanganan pemerintah provinsi rupanya melampaui batas penyelesaian ranah hukum.

Wagub turun menjamin sang anak yang masih berusia enam tahun beserta adik balitanya menerima bantuan medis komprehensif.

Upaya pertolongan mencakup pemenuhan gizi, pemeriksaan fungsi jantung, hingga persiapan operasi bibir sumbing.

“Pemerintah menyentuh langsung akar perkara, yaitu tingginya angka kemiskinan ekstrem dan minimnya akses layanan kesehatan bagi masyarakat pinggiran,” jelas tokoh yang tergabung dalam Anggota Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung bidang Perindustrian & Perdagangan.

Gaya kepemimpinan turun mendatangi titik krisis, menurut analisis Mahendra, sangat sejalan dengan konsep kepemimpinan transformasional gagasan pakar keilmuan James MacGregor Burns.

Sang pemimpin tidak terjebak urusan tata usaha di balik kenyamanan meja kerja, melainkan berani menuntaskan persoalan ketimpangan struktural warga kelas bawah.

Mengutip pandangan ahli tata kelola daerah tertinggal Dr. Stepanus Malak, Mahendra mengingatkan bahwa memajukan kawasan terpelosok menuntut keberpihakan total kepada rakyat.

“Membangun jalan mulus sampai ke pelosok desa sembari merangkul keluarga miskin agar keluar dari keputusasaan ekonomi adalah perwujudan makna pemerataan sesungguhnya.

“Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela sedang menyusun fondasinya mulai dari pedalaman Mesuji,” pungkas aktivis pergerakan reformasi 1998 ini.