Kirka – Harga resin plastik di pasar global terus melambung tajam.
Rentetan lonjakan harga bahan baku pembuat kemasan langsung memukul telak sektor industri makanan dan minuman (mamin) di tanah air, mulai dari korporasi besar hingga pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, memandang guncangan harga bukan sekadar riak kecil pembukuan.
Tekanan menyebar cepat dari pabrik petrokimia, memangkas margin keuntungan produsen, dan lambat laun merambat membebani kantong konsumen.
“Kenaikan harga bahan baku memicu tekanan struktural nyata.
“Sektor pangan olahan kita, penyumbang 36 persen PDB manufaktur nasional, sedang terdesak akibat volatilitas harga minyak dunia dan kacaunya logistik global,” kata Mahendra, Kamis, 7 Mei 2026.
Menyusutkan Isi
Bagi produsen, pilihan yang tersedia amat terbatas.
Mempertahankan margin berarti menaikkan harga jual, sebuah langkah berisiko yang bisa mengusir pelanggan.
Bahan dasar pembuat botol PET maupun plastik pembungkus makanan ringan yang makin mahal memaksa pabrik menempuh strategi yang lazim disebut shrinkflation.
Eksponen 98 itu menjelaskan, praktik mengecilkan volume atau berat bersih barang tanpa mengubah harga jual menjadi jalan keluar paling rasional bagi pabrik saat ongkos produksi melonjak.
“Konsumen pada akhirnya menanggung beban secara diam-diam. Bungkus luarnya tampak sama, banderol harganya tetap, tapi isinya menyusut tajam,” tegasnya.
UMKM
Pukulan paling telak dirasakan oleh pelaku UMKM.
Kelompok usaha mikro lazimnya tidak memiliki kontrak pembelian jangka panjang untuk pasokan material layaknya korporasi raksasa.
Mereka terpaksa membeli eceran dengan harga per unit yang melangit.
Ketergantungan Indonesia pada pasokan impor makin memperburuk keadaan karena nilai tukar rupiah dan harga komoditas antar bangsa murni berada di luar jangkauan pelaku usaha lokal.
“Korporasi besar bisa menyiasati keadaan lewat diversifikasi pemasok. Sebaliknya, UMKM langsung kehabisan napas begitu bahan baku naik,” tutur Mahendra.
Biomaterial
Menyikapi kebuntuan rantai pasok, Mahendra menawarkan jalan keluar berbasis kemandirian sumber daya domestik.
Transisi menuju penggunaan biomaterial harus segera digesa.
Komoditas lokal, terutama singkong dan tebu, sangat potensial diolah sebagai bahan substitusi kemasan.
Pemerintah dituntut turun tangan menyiapkan regulasi sekaligus insentif fiskal untuk pabrik pengolahan.
Kebijakan pelindung mutlak diperlukan agar industri mamin tidak terus-terusan tersandera oleh fluktuasi pasar dunia.
“Beralih ke kemasan ramah lingkungan berbasis komoditas lokal bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup sebuah industri.
“Tanpa langkah cepat, bahan baku impor akan terus menjadi bom waktu bagi daya saing produk dalam negeri,” pungkasnya.






