Gubernur Singkong: Tangan Dingin Mirza Angkat Martabat Petani

Gubernur Singkong: Tangan Dingin Mirza Angkat Martabat Petani
Ilustrasi grafis capaian satu tahun kepemimpinan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam mengangkat kesejahteraan petani singkong. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Genap satu tahun memimpin Provinsi Lampung pada 20 Februari 2026, pasangan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlaela dinilai berhasil melakukan intervensi pasar yang konkret di sektor pertanian.

Kebijakan tangan dingin Mirza, sapaan akrab Gubernur, dianggap sukses mengangkat martabat petani, terutama melalui stabilisasi harga komoditas unggulan.

Penilaian tersebut disampaikan Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama.

Pria yang kini menjabat sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Bidang Perindustrian dan Perdagangan ini menyebut, julukan “Gubernur Singkong” yang melekat pada Mirza bukan sekadar gimik politik, melainkan representasi dari kebijakan yang menyentuh akar rumput.

“Satu tahun ini pembuktiannya jelas. Saat harga singkong anjlok dan petani menjerit, Gubernur tidak diam di meja.

“Beliau langsung tembus ke Kementerian Pertanian dan mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 2,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 20 Februari 2026.

Regulasi penetapan harga dasar singkong sebesar Rp1.350 per kilogram tersebut, menurut Mahendra, menjadi game changer.

Langkah ini memaksa pabrik tapioka kembali beroperasi dengan skema harga yang lebih manusiawi bagi petani.

Hilirisasi Desa dan Lonjakan Padi

Tak hanya bermain di regulasi harga, Mahendra menyoroti manuver Mirza dalam menata tata niaga dari hulu.

Kerjasama dengan Bappenas membentuk National Cassava Center untuk penyediaan bibit beraci tinggi, serta penyediaan mesin pengering (dryer) di tingkat desa, dinilai efektif memutus rantai ketergantungan petani menjual barang mentah.

“Dengan dryer di desa, petani bisa menahan komoditas dan menjual saat harga terbaik, bahkan ada nilai tambah sekitar Rp1 juta per bulan. Ini yang disebut hilirisasi kerakyatan,” imbuhnya.

Di sektor pangan, data lapangan menunjukkan tren positif. Mahendra memaparkan, produksi padi Lampung terdongkrak hampir 15 persen, bergerak dari 2,7 juta ton menuju angka psikologis 3 juta ton gabah kering giling (GKG).

Kenaikan ini, lanjut Mahendra, dipicu oleh kombinasi penggunaan bibit unggul, pupuk organik cair, serta program Electrifying Agriculture bersama PLN yang memodernisasi sistem pengairan lahan.

Nilai Religius dan Adat Sungkai

Lebih jauh, Mahendra menganalisis bahwa keberpihakan Mirza tidak lepas dari fondasi kultural dan spiritual yang dianutnya.

Sebagai putra Sungkai yang taat, Mirza dinilai berhasil menerjemahkan falsafah Piil Pesenggiri, khususnya pilar Sakai Sambayan (gotong royong) ke dalam kebijakan birokrasi.

“Ada nafas Islam dan adat yang kuat dalam setiap kebijakannya.

“Membela kaum mustadh’afin (lemah) dan memuliakan petani adalah implementasi nyata dari amanah pemimpin,” ujar Mahendra.

Ia menambahkan, konsistensi Mirza dalam mendorong diversifikasi lahan menggeser sebagian lahan singkong ke jagung dan padi juga menjadi strategi jitu menjaga ketahanan pangan daerah tanpa mengorbankan salah satu komoditas.

“Jika ritme kerja seperti ini dipertahankan, target swasembada pangan dan kesejahteraan petani kopi serta kakao melalui BUMDes bukan hal mustahil. Lampung sedang berada di jalur yang tepat,” pungkasnya.