Menu
Precision, Actual & Factual

Profil Edi Sujarwo: Ia bersama Aliza Gunado Jadi Kaki Tangan Aziz Syamsudin Terima Suap Dari Mustafa

  • Bagikan
Sosok Edi Sujarwo alias Jarwo bersama Aliza Gunado Ladonny yang menjadi kaki tangan Aziz Syamsudin mengurus DAK Lampung Tengah. Foto Istimewa

KIRKA.CO – Banyak peristiwa atau hal di dalam perkara korupsi Bupati Lampung Tengah periode 2016-2021 Mustafa, terlebih ketika kasusnya disidangkan di PN Tipikor Tanjungkarang. Satu contoh adalah, peristiwa tentang dugaan pemberian suap kepada Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsudin.

Aziz disebut menerima uang fee sekira Rp 2,5 miliar, saat dia masih menjabat sebagai Ketua Banggar DPR RI. Latar belakang pemberian uang itu menyoal tentang DAK APBN TA 2017.

Sebenarnya, jauh sebelum diadili, Mustafa sudah mengungkapkan hal tersebut. Ketika itu ia ungkapkan ke publik, ada beberapa respons yang muncul.

Pertama, Aziz dilaporkan ke MKD DPR RI. Kedua, Mustafa dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri atas dugaan pencemaran nama baik.

Tapi apapun itu, Aziz Syamsudin diketahui telah membantah pernyataan Mustafa tersebut. Meski begitu, publik agaknya harus disuguhkan informasi lain.

Dalam penanganan perkara korupsi Mustafa di tingkat penyidikan, KPK tercatat pernah memeriksa seorang swasta bernama Edi Sujarwo. Nama ini tercatat sudah dua kali dijadwalkan untuk diperiksa: 21 Maret 2019; dan 2 April 2019.

Nama ini berkorelasi dengan apa yang telah diutarakan saksi-saksi yang diperiksa di PN Tipikor Tanjungkarang. Nama panggilan dari Edi Sujarwo adalah, Jarwo. Di pengadilan, banyak saksi menyebut nama Jarwo.

Jarwo adalah 1 dari 2 kaki tangan Aziz Syamsudin. Selain Jarwo, ada namanya Aliza Gunado Ladonny. Aliza ini dulunya adalah Dirut Bisnis PT LJU.

Selain itu, ia sudah dicekal KPK untuk bepergian ke luar negeri. Pencekalan itu berkaitan dengan kasus yang diduga melibatkannya dengan Aziz Syamsudin. Pokok perkaranya adalah terkait korupsi Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial.

KIRKA.CO sebelumnya telah mengulas tentang profil Aliza Gunado berikut tentang kemungkinan dia akan diperiksa oleh penyidik KPK dalam kasus Wali Kota Tanjungbalai.

Jarwo dan Edi Sujarwo adalah orang yang sama ketika Mustafa bersepakat untuk memberikan uang kepada Aziz Syamsudin.

Cerita yang diungkap KIRKA.CO ini telah menjadi ulasan di persidangan. Singkat cerita, anak buah Mustafa awalnya menyiapkan proposal untuk mengurus penambahan DAK ke Pemkab Lampung Tengah.

Di awal pengurusan itu, anak buah Mustafa bertemu dengan seseorang mengaku bernama Jarwo. Dalam perjalanan pengurusan alokasi DAK tersebut. Anak buah Mustafa dan Jarwo berkali-kali pergi bersama ke Jakarta.

Di sana, Jarwo menginap. Segala biaya akomodasinya ditanggung. Tak hanya biaya Jarwo sendiri. Ketika Jarwo menginap dengan temannya pun, biaya hotel tetap ditanggung anak buah Mustafa.

Anak buah Mustafa sempat kaget dan merasa kehilangan sosok Jarwo. Sebab, Aliza Gunado adalah orang yang ditemui kemudian untuk mengurus proposal tadi. Anak buah Mustafa yakin, karena Aliza mengaku sebagai orangnya Aziz.

Mustafa juga kaget. Mengapa bukan Jarwo yang mengurus proposal tersebut. Tentang keraguan Mustafa tadi, sekalipun tak pernah diulas di persidangan. Praktis Mustafa yakin dengan kesepakatan dari pengajuan proposal itu.

Catatan Mustafa yang dituangkan dalam surat permohonan JC. Catatan ini dipamerkan di ruang persidangan saat Mustafa diperiksa sebagai terdakwa di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 27 Mei 2021. Foto Ricardo Hutabarat

Di awal, alokasi DAK untuk Pemkab Lampung Tengah dijanjikan akan mencapai Rp 100 miliar. Janji tinggal janji, alokasi DAK yang diterima tidak seperti kesepakatan di awal. Alokasi yang diterima hanya Rp 30 miliar.

Mustafa mau membuat kesepakatan tersebut karena ia ingin agar nominal DAK yang biasanya diterima Rp 25 miliar, bisa bertambah. Memang bertambah, tapi tak seperti janji di awal. Ulasan-ulasan ini muncul ketika perkara Mustafa bergulir pada agenda sidang pemeriksaan saksi-saksi.

Tiba saatnya Mustafa diperiksa sebagai terdakwa. Dalam kesaksiannya pada Kamis, 27 Mei 2021 kemarin, Mustafa menerakan catatan. Catatan itu ia maksudkan sebagai niat dia bekerja sama dengan KPK.

Persisnya, catatan tersebut termaktub dalam surat permohonan Justice Collaborator (JC) yang ia sangat inginkan untuk terkabul. Supaya hukumnya tidak terlalu berat.

Catatan tadi sempat dipamerkan oleh pengacara Mustafa, yakni Muhammad Yunus. Dari beberapa keterangan tentang aliran uang, Mustafa mencatat tentang uang suap ke Aziz Syamsudin. Di dalam catatan itu tertera nama Edi Sujarwo.

Berangkat dari informasi itu, KIRKA.CO melakukan penelusuran lewat mesin pencarian Google. Singkatnya, Edi Sujarwo diketahui adalah orang dekat Aziz Syamsudin.

Edi Sujarwo bahkan dilabeli sebagai Staf Khusus dari Aziz Syamsudin. Dalam setiap kegiatan, Edi Sujarwo bergerak atas nama Aziz Syamsudin.

Aziz Syamsudin bahkan mempublikasikan kedekatannya dengan Edi Sujarwo. Terlebih saat anak perempuan Edi Sujarwo lulus dari Akpol.

Anak perempuan Edi Sujarwo adalah Arum Monita Sari, alumni Akpol Tahun 2020. Saat ini diketahui sedang bertugas di Polda Lampung.

Edi Sujarwo memiliki seorang isteri bernama Sri Sudarsih yang sempat masuk dalam kancah politik sebagai kader Partai Golkar. Diketahui, Aziz adalah anggota DPR RI dari Partai Golkar. Dari proses persidangan itu, Edi Sujarwo diketahui bertempat tinggal di Seputih Mataram, Lampung Tengah.

Sepanjang perjalanan sidang, JPU KPK Taufiq Ibnugroho yang memang ditugasi untuk mendakwakan Mustafa mengaku bahwa profil tentang Edi Sujarwo atau Jarwo tak banyak diulas.

Hal itu ia utarakan pada Kamis sore, 27 Mei 2021, menyusul KIRKA.CO bertanya kepada dia tentang apakah KPK sudah mengantongi profil dari Edi Sujarwo yang masuk dalam catatan milik Mustafa.

 

Sumber : http://www.jejamo.com/anggota-dpr-ri-aziz-syamsudin-santuni-anak-yatim-piatu-di-lampung-tengah.html

  • Bagikan