“Artinya pasar yang lain masih sangat potensial untuk kita kembangkan misalnya Timur Tengah selain yang sudah existing,” imbuhnya.
Menurut Budi Sulistiyo, tilapia Indonesia memiliki keunggulan dibanding kompetitor, karena tersertifikasi ekolabel. Produk tersebut pun dihargai paling tinggi dibanding produk sejenis dari Tiongkok, Taiwan dan Honduras di pasar AS.
Selain itu, selama 2021-2022 tidak terdapat penolakan ekspor tilapia Indonesia ke pasar AS. Sementara di periode yang sama, terdapat 17 penolakan terhadap produk Tiongkok karena isu veterinary drugs, labelling, nitrofurans dan pestisida.
Baca juga: Satelit Merah Putih 2 Resmi Diluncurkan dari Cape Canaveral Florida
“Tilapia Indonesia di pasar AS merupakan produk premium dan bersertifikat ekolabel,” ungkap Budi Sulistiyo.
Selain itu, kata Budi meneruskan, bahwa tilapia sebagai komoditas ekspor sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat semua bagian tubuh tilapia bisa diolah (zero waste).
Misalnya kepala ikan sebagai bahan menu masakan lokal, sisik menjadi kolagen dan gelatin untuk kosmetik, kulit untuk pengobatan luka bakar (farmasi), duri ikan dan intestine menjadi tepung ikan bahan pakan ikan serta minyak ikan untuk biofuel.






