KIRKA – Kisah heroik perang gerilya Gele Harun di Lampung Barat.
“Anak-anakku, Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran Tanah Airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapa pun juga.” Jenderal Soedirman.
Kutipan amanat Jenderal Soedirman diatas seolah menggambarkan kisah heroik perang gerilya ratusan kilometer yang dilakukan Gele Harun Nasution beserta bala tantara nya menghadapi Agresi Militer Belanda ke dua di Lampung pada Januari-Agustus1949.
Baca Juga : Review Buku Momoye: Mereka Memanggilku
Dalam buku “Pokok-pokok Gerilya” yang ditulis Jenderal Besar AH Nasution Perang Gerilya Adalah Perang Rakyat Semesta. Ide dasarnya adalah menggunakan segala kekuatan (sumber daya) untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat.
Dan fondasi utama strategi ini adalah pada kekompakan serta rasa saling percaya antara militer dan rakyat. Che Guevara, Mao Tse Tung dan Jenderal Sudirman menjadi sosok yang berhasil menerapkan strategi Perang Gerilya.
Perang Gerilya Gele Harun semasa Agresi Militer Belanda II dilakukan setelah Tanjungkarang sebagai Ibukota Provinsi Lampung dan kota-kota penting lain nya berhasil ditaklukan oleh Belanda.
Strategi ini juga sesuai perintah kilat No.1 Panglima Besar Jenderal Soedirman kepada seluruh pejuang kemerdekaan Indonesia.
Adapun rute perang Gerilya Gela Harun dimulai dari Kota Bandar Lampung – Pringsewu – Talangpadang – Ulu Belu – Way Tenong – Bukit Kemuning dan Kembali ke Bandar Lampung. Hal itu dilakukan dalam medan perang yang sulit menembus perbukitan dan rimbun nya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Saya coba hitung mengunakan Google Map.
Baca Juga : Sumatera Saat Republik Indonesia Berusia Muda
Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai sebagai Acting Residen Lampung (Kepala Pemerintahan Darurat) menggantikan Residen Rukadi pada 5 Januari 1949 dibayar dengan keberanian dan semangat juang ditengah terbatas peralatan tempur dan fasilitas medis.
Tak ayal, dia pun harus kehilangan putri kesayangannya Herlinawati dalam perang gerilya yang dikebumikan di Pekon Sukaraja Kecamatan Way Tenong. Sebuah pukulan berat yang harus diterima dengan keikhlasan demi berkibar nya Sang Saka Merah Putih.
Jadi, selain Bung Karno, Gele Harun menjadi sosok pejuang kemerdekaan yang pernah menapakan kaki di Lampung Barat. Bahkan, Gele Harun menjadikan Bumi Skala Brak sebagai benteng pertahanan terakhir dalam mempertahankan Kemerdekaan RI semasa Agresi Militer Belanda II di Provinsi Lampung.
Ya, Kondisi geografis alam Lampung Barat mendukung taktik perang Gerilya. Jadi, kita sebagai warga Lampung Barat patut berbanga hati, dimana tanah tempat kita berpijak menjadi bagian penting perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Ya gak sih.
Namun patut disayangkan, generasi penerus di provinsi Lampung khusus nya Lampung Barat banyak tak mengetahui peristiwa heroik 71 tahun yang lalu itu. Bahkan, di Kecamatan Way Tenong pun, tak banyak warga mengetahui sosok Gele Harun dan kisah perang gerilya yang terjadi di tanah tempat mereka dilahirkan.
Baca Juga : Film Kisah Kelam Tahanan Politik Tumpamaro di Uruguay
Sungguh patut disayangkan, rendah nya tingkat literasi sejarah menjadi problem yang mesti diselesaikan. Karena selain Nasionalisme, jejak Gele Harun juga menjadi potensi wisata sejarah dan edukasi yang dapat menambah nilai ekonomi masyarakat setempat.
Melihat kondisi objektif yang ada, tentu sosok Gele Harun sangat layak menyandang status Pahlawan Nasional. Namun, fakta dilapangan tak berbanding lurus dengan harapan kita semua.
Perjuangan menjadikan Gele Harun dan rekan seperjuangannya KH. Ahmad Khanafiah menjadi pahlawan nasional bukanlah sesuatu hal yang mudah dilakukan. Sejak Tahun 2013 hingga kini, status Pahlawan Nasional belum juga disandang mereka berdua. Segala upaya sudah dilakukan.
Keterangan ahli, saksi mata dan setumpuk dokumen perjuangan Gele Harun dan KH. Ahmad Khanafiah tak juga meluluhkan hati pihak terkait untuk menyandangkan status Pahlawan Nasional.
Semoga kelak, Gele Harun dan KH. Ahmad Khanafiah dapat ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Karena menurut Bung Karno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya”. Semoga.. Ya..






