Kirka – Presiden Prabowo Subianto kembali menorehkan pencapaian diplomasi ekonomi antar negara.
Tampil sebagai tamu kehormatan pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, kepala negara mencatat nilai perdagangan bilateral menembus angka 5 miliar dolar AS atau setara Rp88 triliun sepanjang 2025.
Capaian angka melonjak tajam hingga 21,7 persen dibandingkan tahun 2024 dan naik 33,7 persen dari catatan 2023.
Eksponen 98, Mahendra Utama, memandang lawatan presiden bukan sekadar kunjungan formal, melainkan wujud nyata pembentukan interdependensi ekonomi.
Merujuk teori Robert Keohane dan Joseph Nye, Mahendra menyebut hubungan simetris selalu menciptakan stabilitas jangka panjang antar negara.
“Sebagaimana ditegaskan Presiden Prabowo, pencapaian angka perdagangan baru merupakan awal, bukan batas akhir dari potensi kerja sama kedua belah pihak,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Sabtu, 5 September 2026.
Faktor pendorong utama lonjakan transaksi kedua negara bersumber dari Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (I-EAEU FTA).
Kesepakatan yang ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025 lalu berhasil menghapus atau mengurangi bea masuk untuk 11.882 pos tarif, mencakup lebih dari 90 persen barang dagang.
Regulasi pun sudah diratifikasi melalui Peraturan Presiden pada Juli 2026.
Arsitektur perdagangan Selatan-Selatan gagasan pemerintah otomatis membuka lima pasar baru bagi produsen lokal.
Sebaliknya, pelaku usaha Eurasia juga mendapat akses langsung ke lebih dari 290 juta populasi konsumen Tanah Air.
Sektor investasi turut menjadi sasaran perluasan kerja sama.
Menteri Investasi Rosan Roeslani memastikan PT Pupuk Indonesia telah menandatangani kajian bersama atau joint study guna membangun pabrik pupuk urea di Vladivostok.
Bagi Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, letak Vladivostok yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik sangat strategis sebagai pasar sekaligus jalur distribusi utama perusahaan.
Pada sektor maritim, Presiden Vladimir Putin secara khusus menawarkan kapal pengolah hasil perikanan berteknologi mutakhir sepanjang lebih dari 102 meter.
Merespons tawaran mitra bilateralnya, pemerintah segera mengirimkan tim khusus untuk mempelajari operasional teknologi kapal canggih.
Penguatan kolaborasi tidak berhenti pada sektor riil. Pemerintah mendorong Badan Pengelola Investasi Danantara, yang memiliki aset kelolaan 1 triliun dolar AS, untuk bermitra dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF).
Keterlibatan dua lembaga pengelola dana harus bergerak jauh melampaui sekadar proses identifikasi peluang, melainkan langsung menuju pembiayaan proyek berstatus layak secara finansial.
Menurut Mahendra, kolaborasi lembaga keuangan mencerminkan pendekatan ekonomi institusional yang kuat untuk mendorong arus investasi lintas negara.
Langkah berani mengundang pemodal asing tergambar jelas dari pernyataan terbuka presiden saat berpidato di hadapan para pengusaha Rusia.
“Presiden menyampaikan pesan lugas kepada pebisnis Eurasia: datanglah ke Tanah Air, bekerjalah bersama kami, dan mari membangun industri bersama,” kata Mahendra menirukan ajakan kepala negara.






