Lampung Lumbung Ternak: Domba Melonjak 121%, Kambing Turun 2,38%

Lampung Lumbung Ternak: Domba Melonjak 121%, Kambing Turun 2,38%
Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, mengingatkan pemerintah daerah untuk segera melakukan intervensi pasar demi melindungi peternak kecil menyusul anjloknya permintaan kambing kurban. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Perayaan Iduladha baru saja berlalu pada Rabu, 27 Mei lalu.

Di balik riuhnya pemotongan hewan kurban, terselip data mengejutkan dari rantai pasok ternak Provinsi Lampung.

Penjualan domba asal wilayah ujung Pulau Sumatera melesat drastis melebihi seratus persen, berbanding terbalik dengan pamor kambing yang justru melempem.

Catatan sementara pergerakan hewan kurban lintas provinsi dan kabupaten/kota merekam pergeseran angka signifikan.

Pengiriman sapi naik 40,15 persen menyentuh 60.429 ekor. Kerbau ikut terkerek 39,25 persen menjadi 337 ekor.

Puncak lonjakan paling mencolok terjadi pada komoditas domba yang meroket 121,76 persen dengan total 3.912 ekor.

Sebaliknya, volume penjualan kambing menyusut 2,38 persen menyisakan 139.917 ekor.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memandang tren kenaikan mayoritas komoditas sebagai bukti nyata kapasitas daerahnya sebagai lumbung ternak nasional.

“Lampung terus berkomitmen menjaga stabilitas pasokan daging. Tingginya permintaan domba dan sapi menunjukkan kepercayaan pasar luar daerah terhadap kualitas peternakan kita.

“Sekarang saat yang tepat memperkuat ekosistem peternakan modern,” ujar Gubernur yang akrab disapa Iyai Mirza, dalam rapat koordinasi lintas sektor pekan lalu.

Fakta di lapangan menunjukkan jangkauan suplai kurban dari Lampung sangat luas.

Sapi potong mendominasi pemenuhan kebutuhan pasar DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan, hingga Kepulauan Riau.

Sementara jalur distribusi kambing dan domba menembus kawasan Jabodetabek, Bangka Belitung, sampai menyeberang ke Kalimantan Tengah.

Merespons anomali turunnya minat terhadap kambing, Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung, Mahendra Utama, membedah fenomena pergeseran selera masyarakat perkotaan.

Berdasarkan teori perilaku konsumen, masyarakat mulai beralih mencari nilai prestise.

“Orang cenderung bergeser ke sapi atau domba karena pertimbangan gengsi sosial.

“Secara hitungan ekonomi, harga domba per kilogram padahal lebih mahal dari kambing, tetapi pembelinya tetap antusias memburu,” jelas Mahendra, Jumat, 29 Mei 2026.

Tokoh Eksponen 98 itu menyoroti dampak langsung penyusutan permintaan kambing bagi nasib peternak lokal.

Menurutnya, peralihan pemotongan ke kerbau, sapi, maupun domba sejalan dengan laporan pantauan pasar berisiko meminggirkan peternak skala kecil yang menggantungkan hidup dari ternak kambing.

“Pemerintah daerah harus segera turun tangan memberikan perlindungan.

“Lakukan intervensi harga serta perbanyak bimbingan teknis supaya peternak kambing tetap berdaya di tengah perubahan selera konsumen,” tegasnya.

Bagi Mahendra, status mentereng sebagai penyokong utama daging nasional memang patut dibanggakan.

Hanya saja, kebanggaan merajai pasar luar daerah akan terasa pincang jika riuh perputaran uang kurban luput menyentuh kantong peternak rakyat yang terlanjur setia merawat kambing di pekarangan rumah mereka.