Warisan Fisik yang Menentukan Daya Saing Daerah

Warisan Fisik yang Menentukan Daya Saing Daerah
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menekankan bahwa pembangunan infrastruktur terintegrasi untuk PON 2032, mulai dari venue hingga akses jalan, adalah warisan fisik yang akan meningkatkan daya saing daerah secara permanen. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Langkah Provinsi Lampung menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII tahun 2032 menjanjikan keuntungan berlipat yang melampaui batas arena pertandingan.

Momentum perhelatan olahraga tingkat nasional membawa lompatan besar bagi percepatan pembangunan fisik sekaligus meletakkan fondasi kuat untuk transformasi ekonomi daerah.

Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa keuntungan paling konkret dari perhelatan PON terletak pada warisan permanen infrastruktur.

Masyarakat akan terus menikmati hasil pembangunan fisik jauh setelah pesta olahraga usai.

“Pembangunan maupun renovasi venue, wisma atlet, sampai akses jalan menuju lokasi pertandingan otomatis memangkas biaya transaksi serta mobilitas barang dan jasa untuk jangka panjang,” urai Mahendra, Jumat, 22 Mei 2026.

Mantan aktivis dan Eksponen 98 itu merujuk pada teori new economic geography gagasan Paul Krugman, yang menekankan bahwa infrastruktur konektivitas berperan sebagai determinan utama aglomerasi ekonomi.

Bagi provinsi yang sangat bertumpu pada sektor agrikultur dan kelancaran logistik seperti Lampung, perbaikan akses jalan memegang peranan vital.

Kelancaran lalu lintas antar wilayah secara langsung akan mendongkrak nilai tawar dan daya saing ragam komoditas unggulan daerah.

Pandangan pakar sejalan dengan komitmen pemerintah daerah.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memastikan pemerataan pembangunan akan menyentuh seluruh wilayah hingga ke pelosok.

Penetapan provinsi sebagai tuan rumah PON membuka jalan lebar untuk mengakses kucuran Dana Alokasi Khusus (DAK) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara lebih masif dan terarah.

Keseriusan membangun fasilitas berkelanjutan tergambar jelas dari pernyataan Gubernur dalam forum Musornaslub KONI di Jakarta.

“Kami tidak hanya membangun venue, tapi juga infrastruktur pendukung yang menghubungkan sentra-sentra ekonomi rakyat,” tegas Rahmat Mirzani Djausal.

Mahendra kembali menyoroti kalkulasi empiris berdasarkan data Kementerian PUPR.

Investasi pembangunan fisik pada ajang multi event sejenis secara rata-rata mampu meningkatkan konektivitas antar wilayah mencapai 30 persen lebih cepat dibandingkan laju pembangunan rutin tahunan.

Berdasarkan fakta lapangan, Mahendra meyakini kolaborasi lintas sektor akan menghasilkan dampak maksimal bagi kesejahteraan rakyat.

Syarat utamanya, pemerintah daerah harus mampu memadukan penyiapan lokasi tanding olahraga dengan pengembangan jalan poros desa, perluasan pelabuhan, hingga pembukaan akses kawasan wisata.

“Bila langkah terintegrasi berjalan optimal, warisan PON 2032 sungguh akan menjadi katalisator pemerataan pertumbuhan, bukan sekadar memunculkan mercusuar fasilitas olahraga modern yang sepi fungsi,” pungkasnya.