Kirka – Peluang cabang olahraga (cabor) petanque untuk unjuk gigi di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) terancam kandas jika para pengurusnya masih betah bermain di lingkungan kampus.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung secara tegas menagih nyali pengurus Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) daerah ini untuk segera melebarkan sayap ke sedikitnya delapan kabupaten/kota.
Peringatan keras tersebut dilontarkan langsung oleh Ketua Umum KONI Lampung, Taufik Hidayat, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurutnya, olahraga bola besi asal Prancis ini memiliki prospek yang sangat cerah, terbukti dari rentetan medali yang disumbangkan atlet Lampung di level Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas).
Sayangnya, ekosistem pembinaan dinilai terlalu eksklusif dan hanya berputar di lingkaran perguruan tinggi.
“Kami minta petanque ini segera disosialisasikan dan dihidupkan di tingkat kabupaten. Jangan hanya terpusat.
“Lewat ekspansi daerah, atlet-atlet lokal yang potensial bisa kita inventarisasi untuk melengkapi kekuatan skuad Lampung ke depan,” tegas Taufik.
Tuntutan KONI ini bukan sekadar imbauan, melainkan syarat mutlak regulasi.
Hasil verifikasi terbaru menunjukkan keabsahan organisasi FOPI baru tercatat di dua titik, Kota Bandarlampung dan Kabupaten Lampung Selatan.
Fakta itu membuat jalan petanque menuju Porprov masih sangat terjal.
“Di kabupaten lain belum terverifikasi dan datanya belum masuk ke KONI setempat. Segera lakukan konsolidasi internal.
“Kalaupun nanti diajukan sekadar untuk cabor ekshibisi di Porprov, syarat utamanya tetap harus ada kepengurusan daerah yang sah,” Taufik menambahkan.
Sentilan tersebut langsung direspons cepat oleh jajaran FOPI Lampung.
Kepala Bidang Organisasi, Rizky Yuliandra, memastikan mesin organisasinya siap turun gunung menyasar daerah.
Ia tak menampik jika selama ini denyut nadi petanque di Bumi Ruwa Jurai memang banyak digerakkan oleh kalangan akademisi.
Kendati demikian, Rizky menepis anggapan bahwa pembinaan berjalan stagnan.
Ketajaman atlet terbukti dengan raihan medali perunggu nasional untuk nomor double mix baru-baru ini.
Dari sisi infrastruktur sumber daya manusia, FOPI juga telah menyebar pelatih berlisensi di berbagai kampus, didukung 3 wasit level nasional dan 5 wasit provinsi.
Secara amunisi, FOPI sejatinya memiliki modal yang cukup gemuk.
Saat ini terdapat 132 atlet putra-putri yang digembleng di empat kampus besar, yakni Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Sumatera (Itera), Universitas Teknokrat Indonesia, dan Universitas Aisyah Pringsewu (UAP).
Ratusan mahasiswa ini notabene adalah putra daerah dari berbagai pelosok kabupaten di Lampung, yang ke depannya sangat potensial dijadikan ujung tombak pembentukan pengurus di kampung halaman mereka masing-masing.
Menatap agenda kompetisi 2028, peta persaingan akan memperebutkan 13 nomor pertandingan.
FOPI Lampung secara realistis membidik target tiga medali yang difokuskan pada nomor triple dan double mix.
“Sesuai arahan Ketum KONI, fokus terdekat kami saat ini murni konsolidasi ke daerah-daerah.
“Target minimalnya, petanque harus bisa ambil bagian sebagai ekshibisi di Porprov mendatang, baru melangkah ke target medali 2028,” pungkas Rizky.






