Kirka – Tren lonjakan angka kunjungan wisata ke Provinsi Lampung rupanya masih menyimpan ironi.
Ramainya kedatangan turis seringkali berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi warga di sekitar lokasi wisata yang tetap jalan di tempat.
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menilai fenomena ganjil layaknya tourism paradox mulai menemukan jalan keluar lewat kebijakan hilirisasi pariwisata yang digulirkan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
“Selama puluhan tahun wisatawan sekadar datang mengagumi alam lalu pulang, nyaris tanpa meninggalkan perputaran uang bagi masyarakat lokal.
“Akibatnya, daerah kita kaya pesona alam, tapi warganya miskin nilai tambah ekonomi,” ungkap Mahendra, Minggu, 3 Mei 2026.
Mahendra menyoroti pendekatan Gubernur Mirza yang berani meninggalkan model lama berbekal jualan pemandangan semata.
Mengacu pada teori Global Value Chain atau rantai nilai global, Pemprov Lampung kini memaksa para pelaku industri pariwisata menaikkan kelas komoditas daerah.
Sebagai contoh, ia membedah transformasi tata niaga Kopi Robusta Lampung.
Biji kopi kini pantang keluar dari desa hanya berupa karung mentah.
Lewat skema Farm to Cup, seduhan kopi berkualitas langsung tersaji di berbagai hotel berbintang.
“Keuntungannya langsung masuk ke kantong petani dan barista, memotong rantai panjang tengkulak maupun distributor besar. Uang turis terserap langsung ke akar rumput,” tegas Mahendra.
Persoalan klasik lain yang ikut dibenahi adalah minimnya akses jalan penghubung dari gerbang tol menuju lokasi liburan di pelosok.
Merespons kendala interkoneksi logistik, pemerintah daerah memfokuskan pengembangan Bakauheni Harbour City (BHC) sebagai jangkar utama.
Langkah mengintegrasikan infrastruktur perlahan mengubah status Lampung.
Predikat daerah pelintasan Sumatera mulai luntur, berganti wujud menjadi muara akhir tujuan liburan pelancong.
Lebih jauh, sosok yang dikenal sebagai Eksponen 98 menggarisbawahi pentingnya digitalisasi ekonomi kreatif pada level desa wisata.
Penetrasi teknologi membuka jalan tol bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memasarkan karya mereka.
Bermodalkan literasi digital serta penguatan talenta lokal, perajin kain Tapis siap pakai kini mampu menjangkau pembeli mancanegara.
Mereka memegang kendali penuh atas pasar tanpa harus bergantung pada agen perantara.
“Hilirisasi pariwisata di tangan Kyai Mirza bukan sekadar jargon politik kosong.
“Pariwisata benar-benar digerakkan menjadi mesin pencetak kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan, bukan sekadar komoditas pameran estetika di media sosial,” pungkasnya.






