Sinergi DesaKu Maju dan Desa BRILiaN: Akselerasi Ekonomi Lampung 2026

Sinergi DesaKu Maju dan Desa BRILiaN: Akselerasi Ekonomi Lampung 2026
Kolaborasi Pemprov Lampung bersama Bank BRI memfasilitasi mesin pengering (bed dryer) guna memutus ketergantungan petani pada penjualan komoditas mentah. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

KirkaPemerintah Provinsi Lampung memutar strategi untuk mengangkat nasib petani.

Lewat kolaborasi program “DesaKu Maju” dan inisiatif “Desa BRILiaN” besutan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, pemerintah daerah menargetkan penghentian kebiasaan menjual hasil panen mentah di tingkat akar rumput.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal beserta Wakil Gubernur Jihan Nurlela merancang skema kerja sama untuk mendongkrak kemandirian ekonomi perdesaan pada 2026.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai langkah Pemprov bersinergi dengan perbankan merupakan jalan keluar yang logis.

Ia menyoroti mandeknya kesejahteraan petani akibat terlalu lama bertumpu pada penjualan komoditas hulu seperti padi, jagung, serta singkong.

“Kesejahteraan petani berpatokan pada Nilai Tukar Petani.

“Kalau masyarakat desa terus-menerus hanya menyediakan bahan baku, harganya akan selalu ditekan pasar,” kata Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 24 April 2026.

Sebagai solusi, pemerintah menyiapkan sarana mesin pengering (bed dryer) agar petani bisa mengolah hasil panen sebelum dijual.

Kehadiran teknologi pascapanen mengubah posisi petani, dari sekadar penanam menjadi produsen skala mikro.

Mereka memegang kendali penuh atas kualitas dan harga jual komoditas.

Pendekatan pengolahan langsung di lokasi panen merupakan wujud nyata hilirisasi.

Namun, pengadaan mesin butuh ekosistem pendukung agar terus beroperasi.

Masuknya program perbankan menyambung rantai ekonomi yang kerap terputus di perdesaan.

Jaringan unit kerja BRI akan mendampingi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama koperasi setempat.

“Pendampingan vokasi dipadukan dengan kemudahan akses modal.

“Skema pembiayaan memastikan operasional pengolahan berjalan selaras dengan perputaran roda ekonomi desa untuk jangka panjang,” jelas eksponen aktivis 98 itu.

Sinergi dua institusi bermuara pada target pencetakan 30 Desa Unggul sepanjang tahun 2026.

Mahendra melihat angka pencapaian cukup masuk akal bila pendampingan berjalan konsisten tanpa putus di tengah jalan.

“Langkah menjembatani potensi lokal dengan akses pendanaan patut mendapat apresiasi.

“Kerja sama lintas sektor menjadi cetak biru nyata membangun kemandirian secara langsung dari desa,” tuturnya.