Singkong Lampung: Dari Keripik Menuju Kemandirian Energi Nasional

Singkong Lampung: Dari Keripik Menuju Kemandirian Energi Nasional
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

KirkaProvinsi Lampung bersiap mencetak sejarah baru dalam industri energi terbarukan.

Komoditas singkong yang selama ini identik dengan olahan pangan tradisional atau sekadar diekspor mentah, kini mulai bertransformasi menjadi bioetanol lewat kolaborasi antara PTPN Group, Universitas Lampung (Unila), dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai langkah tersebut bukan sekadar proyek industri biasa, melainkan manifestasi nyata dari arahan Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan dan energi nabati.

Menurutnya, Lampung kini memiliki proyeksi kuat untuk menjadi pusat hilirisasi singkong nasional yang mampu menekan ketergantungan Indonesia pada energi fosil.

“Hilirisasi adalah harga mati jika kita ingin berdaulat.

“Singkong bukan lagi soal perut semata, tapi soal bagaimana mesin-mesin industri kita berputar tanpa harus mendamba impor minyak,” tegas Mahendra Utama, Kamis, 23 April 2026.

Keluar dari Kutukan Komoditas

Dalam kacamata ekonomi pembangunan, Mahendra menyebut hilirisasi adalah kunci utama bagi Lampung untuk keluar dari kutukan komoditas (commodity curse).

PTPN Group, sebagai perpanjangan tangan negara, memegang mandat penting untuk memastikan singkong memiliki nilai tambah (value added) yang tinggi sebelum dipasarkan.

Ia menjelaskan bahwa integrasi sumber daya lokal ke dalam rantai pasok energi nasional akan menciptakan kemandirian yang kebal terhadap fluktuasi pasar global.

“Pemanfaatan singkong menjadi bioetanol ini adalah jawaban paling logis dan strategis atas tantangan transisi energi saat ini,” ujarnya.

Sinergi Triple Helix

Transformasi industri ini tidak akan berjalan tanpa landasan saintifik dan regulasi yang kuat.

Mahendra menyoroti peran Unila dalam riset bioteknologi serta pengembangan varietas singkong berkadar pati tinggi.

Hal itu bertujuan agar bahan baku yang masuk ke kilang bioetanol memiliki tingkat efisiensi maksimal.

Di sisi lain, Pemprov Lampung memegang kendali sebagai dirigen yang memastikan iklim investasi dan regulasi lokal mendukung penuh ekosistem hilirisasi tersebut.

“Sinergi triple helix antara Pemerintah, Akademisi, dan Industri ini merupakan model ideal pembangunan berkelanjutan.

“Ini sangat sejalan dengan amanat visi Asta Cita Presiden Prabowo,” tambah Mahendra.

Angkat Derajat Petani di Era Prabowo

Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menekankan pentingnya kemandirian energi nasional.

Dalam hal ini, bioetanol berbasis singkong dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang jauh lebih baik dibandingkan tebu, terutama karena tingkat adaptasi dan luasnya lahan singkong di Lampung.

Mahendra memaparkan, jika Lampung resmi menjadi hub bioetanol, negara tidak hanya menghemat devisa dari pengurangan impor BBM.

Dampak langsungnya juga akan dirasakan oleh para petani singkong lokal.

“Harga singkong yang fluktuatif akan menemukan jangkar baru pada industri energi yang permintaannya jauh lebih stabil.

“Nantinya jelas akan meningkatkan taraf hidup petani kita,” jelasnya.

Mahendra pun optimistis proyek hilirisasi akan mengubah citra Lampung di mata dunia, dari pengekspor singkong mentah menjadi lumbung energi hijau Indonesia.

“Langkah PTPN, Unila, dan Pemprov Lampung adalah start dari maraton menuju Indonesia Emas 2045.

“Ketahanan energi dan pangan kini bukan sekadar mimpi di atas kertas, tapi realitas yang sebentar lagi mengalir di tangki bahan bakar kendaraan kita,” pungkas Mahendra.