Kirka – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi di jaringan SPBU Pertamina resmi merangkak naik pekan lalu.
Pemicu utamanya bukan faktor dalam negeri, melainkan pecahnya konflik antara Iran dan Israel yang mencekik jalur pasokan minyak mentah dunia di Selat Hormuz.
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama memandang penyesuaian harga khusus bensin beroktan tinggi merupakan respons logis dari imbas geopolitik global.
Merujuk pada data International Energy Agency (IEA), gangguan keamanan di kawasan Timur Tengah langsung menciptakan kejutan pasokan yang menekan pasar energi.
“Indonesia masih berstatus sebagai negara pengimpor minyak.
“Ketika harga minyak dunia melonjak bersamaan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah, menaikkan harga BBM non subsidi menjadi cara paling masuk akal agar beban keuangan korporasi tidak meledak,” tegas Mahendra, Rabu, 22 April 2026.
Walau pasar energi global sedang terguncang, daya beli masyarakat menengah ke bawah dipastikan tidak terpengaruh.
Mahendra secara khusus mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia karena berani menahan harga BBM bersubsidi.
Keputusan mempertahankan harga bahan bakar penugasan untuk masyarakat bawah menjadi bukti nyata kehadiran negara.
Apalagi, Kementerian ESDM juga berjanji akan mengawal ketat skema penyaluran BBM di lapangan agar betul-betul dinikmati oleh kelompok rentan.
Konsekuensi dari fluktuasi pasar dunia sekarang sepenuhnya ditanggung konsumen kelas atas.
Para pemilik kendaraan mewah yang spesifikasi mesinnya menuntut bahan bakar beroktan tinggi wajib beradaptasi murni dengan harga keekonomian riil tanpa bantuan pemerintah.
“Ketahanan ekonomi nasional sedang diuji. Membiarkan harga bensin kualitas tinggi mengikuti mekanisme pasar, sambil terus memproteksi jatah subsidi rakyat miskin, adalah jalan keluar terbaik menghadapi ketidakpastian global,” pungkas Mahendra.






