Sosok  

Gurunya Para Pewarta

Gurunya Para Pewarta
Ilustrasi puisi 'Gurunya Para Pewarta' karya Mahendra Utama untuk mengenang almarhum Syamsul B. Nasution. Foto: Arsip Istimewa/Kirka/I

Kirka – Puisi ini merupakan sebuah elegi (syair duka) yang sangat personal, ditulis oleh seorang murid (Mahendra Utama) untuk mentornya, Syamsul B. Nasution.

Di dalamnya tergambar rasa hormat yang tinggi terhadap sosok almarhum sebagai Gurunya Para Pewarta.

Penulis menyoroti integritas almarhum yang memegang teguh martabat jurnalistik, sebuah nilai yang dikontraskan dengan sindiran (satire) terhadap fenomena jurnalis zaman sekarang yang seringkali hanya bermodalkan gadget dan kecepatan, namun melupakan kedalaman makna.

Ada pula penyebutan mimpi almarhum yang belum terwujud, yakni mendirikan kampus jurnalis di Jatiagung, yang kini harus terhenti karena takdir Tuhan.

Selain aspek profesional, puisi ini juga menyentuh sisi emosional dan kultural.

Terdapat kenangan spesifik mengenai percakapan telepon terakhir di dini hari yang menyiratkan firasat perpisahan (ini yang terakhir kuyakini).

Penulis juga menyisipkan filosofi budaya Mandailing, “Anak ni halak, marga do tu bona,” yang bermakna bahwa sejauh apapun seseorang pergi, ia akan kembali ke asalnya (pulang ke kampung halaman atau kembali kepada Sang Pencipta).

Puisi ditutup dengan doa tulus agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, serta pengakuan bahwa kemampuan penulis saat ini adalah buah dari didikan sang guru.

Gurunya Para Pewarta

 

Untuk Sang Penunjuk Warta, Syamsul B. Nasution

 

Di ruang sunyi, di antara tinta dan kata

Kau torehkan ilmu, bukan sekadar berita

Martabat jurnalis, kau tegakkan dengan jiwa

Namun kini diam, tinggalkan ruang redaksi kita

Kini banyak ‘wartawan’ gadget, asal cepat, lupa makna.

 

Dari cetak, layar kaca, hingga jagat maya

Pikiranmu tak pernah padam, terus menyala

Mimpi terakhir: kampus jurnalis di Jatiagung

Tampaknya Allah pun rindu, kau dipanggil pulang.

 

Dini hari telepon berdenting, suara garau penuh rencana

“Sekali lagi, Man, ini yang terakhir kuyakini”

Ternyata benar, esok subuh hanya doa yang tersisa

Pulang haru biru, ke tanah yang kau cintai.

 

“Anak ni halak, marga do tu bona,” pesan tua Mandailing itu

Bahwa akhirnya kita kembali ke asal, ke satu titik rindu

Kau tinggalkan jejak di setiap sudut kota

Di kalimat utuh wartawan binaanmu, di hati yang luka.

 

Ya Allah, tempatkan ia di sisi-Mu, guru kami ini

Ampuni dosa, terima amal, lapangkan kuburnya yang sepi.

Syamsul B. Nasution, terima kasih atas pelita

Dari ilmumu, Mahendra Utama kini mampu berkata.

 

Bandar Lampung, di hari kepergianmu.

Senin, 16 Februari 2026