Menu
Precision, Actual & Factual

Terdakwa Dugaan Tipu Gelap Rp17 Miliar Minta Dakwaan Jaksa Digugurkan

  • Bagikan
Kirka.co
Suasana Persidangan Perkara Tipu Gelap Rp.17 Miliar, Atas Nama Terdakwa Djoko Sudibyo. Foto Eka Putra

KIRKADjoko Sudibyo, seorang terdakwa perkara tipu gelap Rp17 miliar, mengajukan eksepsi atau bantahannya terhadap dakwaan dari Jaksa, dengan menyebut bahwa surat dakwaan tersebut tidak lengkap dan meminta Majelis Hakim untuk menggugurkannya.

Dalam gelaran sidang lanjutannya Senin 19 Juli 2021, Ketua Indonesia Crisis Center tersebut melalui Kuasa Hukumnya, Indra Jaya, membacakan bantahannya dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang secara tertulis.

Indra menyebut bahwa perkara kliennya tersebut bukanlah ranah Pidana melainkan perkara Perdata, yang telah diperkuat dengan adanya surat perjanjian kerja sama tertulis antara Sugiarto Hadi selaku korban di perkara ini dengan terdakwa.

“Terhadap apa yang telah dilakukan terdakwa adalah murni perkara Perdata, karena adanya perjanjian antara dirinya dan Sugiarto Hadi, dan dituangkan dalam Surat Kesepakatan Kerjasama Pengadaan Pupuk di Pertanian dan Perkebunan yang, tanggal 29 September 2010 lalu,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya dakwaan Jaksa tidak memenuhi syarat-syarat yang telah diatur dalam undang-undang, dengan melihat rentan waktu aduan dan terjadinya peristiwa di dalam surat dakwaan, maka sudah barang tentu perkara yang menjerat kliennya tidak memenuhi unsur sesuai Pasal 74 Ayat (1) KUHP.

“Dengan adanya dugaan tindak pidana di mulai pada tahun 2011 maka hal ini menjadi aneh karena untuk delik aduan, pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam waktu sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia,” jelasnya.

Diketahui pada dakwaan Jaksa, peristiwa ini bermula ketika di 2011 lalu dimana ketika Direktur PT Sumber Urip Sejati Utama bernama Sugiarto Hadi mendapat surat dari Penyidik Pajak Pusat Jakarta, terkait penunggakan pajak sejak 2009 hingga 2011, yang besaran tunggakan pajaknya mencapai Rp34 miliar.

Saat itulah dirinya segera menghubungi terdakwa Djoko Sudibyo yang merupakan rekan bisnis pupuk PT Sumber Urip Sejati Utama (SUSU), untuk memintanya bantuan guna mengurus permasalahan tunggakan pajak puluhan miliar tersebut di pusat.

Dua hari berselang keduanya pun bertemu di sebuah hotel wilayah Jakarta, dan dari tempat itu keduanya beserta dengan seorang rekan terdakwa bernama Benny Hutagalung bergegas menuju Kantor Pajak Pusat untuk menemui Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak.

Lantaran Benny Hutagalung mengenal sang Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak, maka dialah yang akhirnya bernegosiasi mengurus persoalan tunggakan pajak tersebut bersama dengan terdakwa, tanpa adanya Sugiarto Hadi di ruangan Direktur Pemeriksaan.

Lima belas menit berselang, Benny dan terdakwa pun keluar dan menemui Sugiarto Hadi dengan memberi kabar bahwa tunggakan pajak PT SUSU dapat dibayar Rp17 miliar saja, dari besaran tunggakan yang sebelumnya mencapai Rp34 miliar, yang pada akhirnya dapat dibayarkan dengan cara mencicil.

Sugiarto Hadi pun mencicil tunggakan tersebut hingga 20 kali, sejak Desember 2011 hingga November 2012 dengan cara mentransfernya ke rekening terdakwa dan milik sopir pribadinya, dengan total transferan mencapai Rp10,5 miliar dalam mata uang Rupiah dan Dolar Singapura.

Namun di tahun 2016, PT SUSU mendapatkan kembali surat terkait tunggakan pajak dari Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kantor Wilayah Dirjen Pajak Bengkulu Lampung, sejak 2009 hingga 2011 dengan besaran yang sama dengan tunggakan sebelumnya dan saat itu Sugiarto Hadi pun ditetapkan sebagai tersangka kasus perpajakan.

Usai ia mendapatkan vonis penjara di tahun 2017, ketika di dalam sel tahanan Sugiarto Hadi pun akhirnya menguasakan kepada ibundanya untuk melaporkan perbuatan tipu gelap yang telah dilakukan oleh terdakwa Djoko Sudibyo terhadapnya, ke pihak Polda Lampung.

  • Bagikan