“Berikut penjelasan konteks pernyataan Menteri Keuangan terkait IMF-WB yg banyak dipelintir publik,” ujar Rahayu Puspasari.
1. Menkeu Sri Mulyani hadir pada rangkaian 2021 IMF-WBG Spring Meetings (09/04) yang berfokus pada topik “Pembangunan internasional, pembiayaan, pemulihan ekonomi, vaksin, dan perubahan iklim.”
2. Menkeu Sri Mulyani mewakili negara konsitituensi South East Asian Voting Group (SEAVG) menyampaikan agar World Bank dan IMF memberikan dukungan kepada negara-negara di dunia, khususnya negara-negara miskin (low income countries).
3. Dukungan ini berupa meningkatkan akses terhadap vaksin, mengelola beban pembiayaan, serta menerapkan strategi pemulihan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.
4. Menkeu Sri Mulyani menyampaikan bahwa upaya penanganan Covid-19, seperti program vaksinasi dan dukungan kebijakan, telah menopang prospek pertumbuhan ekonomi global yang semakin membaik, namun terdapat tantangan yaitu tidak meratanya pemulihan global.
5. Sejumlah negara diproyeksikan akan dapat tumbuh cukup tinggi di tahun 2021 termasuk Indonesia, namun negara-negara yang terpukul lebih keras memiliki proyeksi pertumbuhan yang jauh lebih rendah.
6. Indonesia sendiri berhasil menjaga defisit anggaran relatif rendah dan memiliki daya tahan yang baik jika dibandingkan negara-negara lainnnya.
“Padahal pada tahun 2020 pandemi COVID-19 tidak pandang bulu menghantam ekonomi global, termasuk negara-negara G-20 dan ASEAN,” imbuhnya.

7. Negara-negara miskin (low income countries) menghadapi tantangan yang paling besar.
“Oleh karena itu, negara-negara kreditur memberikan fasilitas penundaan pembayaran kewajiban utang dalam program Debt Service Suspension Initiative (DSSI) hingga akhir tahun 2021,” jelas Kabiro Komyaninfo Kemenkeu RI
8. Selain itu, implementasi Common Framework for Debt Treatment beyond the DSSI memungkinkan 73 negara miskin tersebut mendapatkan keringanan pembayaran kewajiban utang secara a case-by-case basis.






