Rasa Kuliner Lampung yang Terancam Redup

Rasa Kuliner Lampung yang Terancam Redup
Mahendra Utama memaparkan analisis ancaman krisis rempah terhadap identitas kuliner Lampung dan solusi hilirisasi. Foto: Arsip @bigmahe168/Wiki/Kirka/I

Kirka – Ancaman serius membayangi kelestarian kuliner tradisional Lampung.

Bukan karena sepi peminat, melainkan akibat merosotnya pasokan bahan baku utama seperti kemiri, pala, dan kapulaga di tingkat petani.

Peringatan keras ini disampaikan Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama.

Ia menilai, jika tidak ada intervensi cepat pada sektor hulu, Lampung berpotensi kehilangan otentisitas rasa pada sajian khasnya.

“Kita bicara soal nyawa masakan Lampung. Gulai Taboh tanpa kemiri yang kuat atau Pindang tanpa pala, rasanya akan hambar.

“Masalahnya, pohon pala kita menua, hama menyerang, dan lahan kemiri makin tergerus,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 18 Februari 2026.

Mahendra menyoroti kondisi riil di sejumlah sentra produksi seperti Pesawaran, Tanggamus, Lampung Barat, dan Lampung Tengah.

Menurutnya, pola tanam yang masih sporadis dan minim peremajaan membuat produktivitas rempah lokal kian tertinggal.

Ia mewanti-wanti, situasi ini bisa memicu ironi besar bagi Bumi Ruwa Jurai.

“Jangan sampai nanti saat ada hajatan besar, kita justru harus impor kemiri dari luar negeri. Ini pukulan bagi daerah penghasil rempah,” cetus pria yang juga menjabat Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis itu.

Hilirisasi Pascapanen

Dalam pandangannya, langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang mendorong modernisasi pertanian dan hilirisasi sudah berada di jalur yang tepat.

Namun, Mahendra menekankan pentingnya eksekusi di tingkat unit pengolahan pascapanen.

Petani, kata dia, tidak boleh lagi dibiarkan hanya menjual biji mentah dengan harga rendah.

Nilai tambah ekonomi harus diciptakan di daerah sendiri, misalnya melalui produksi minyak atsiri pala atau ekstrak kapulaga.

“Hilirisasi itu kunci agar petani sejahtera dan stok terjaga. Kita harus berani targetkan produk turunan rempah asli buatan putra daerah,” imbuhnya.

Mahendra pun mengajak para bupati di wilayah sentra rempah serta pelaku usaha untuk satu visi dalam menyelamatkan komoditas ini.

Baginya, mempertahankan pasokan rempah sama krusialnya dengan menjaga identitas budaya.

“Kuliner adalah identitas. Tanpa dukungan pasokan rempah yang stabil, masakan Lampung hanya tinggal nama tanpa rasa,” pungkas eks Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh tersebut.