Kirka – Manuver Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pemilu dini (snap election), Minggu, 8 Februari 2026, dinilai bukan sekadar perjudian politik domestik.
Bagi Indonesia, hasil pemilu ini adalah barometer krusial bagi keberlanjutan arus modal asing dan stabilitas kawasan Indo Pasifik.
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut posisi Takaichi yang diprediksi kian solid di parlemen akan memberikan efek domino positif bagi perekonomian nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Investor butuh kepastian, bukan kejutan. Jika Takaichi mengamankan mandat penuh, peta jalan kerja sama Tokyo-Jakarta yang sudah dirintis tidak akan berubah arah, justru makin akseleratif,” tegas Mahendra, Senin, 9 Februari 2026.
LDP dan Kebijakan
Merujuk pada proyeksi exit poll sejumlah media arus utama Jepang seperti Asahi dan Nikkei, koalisi Partai Liberal Demokrat (LDP) bersama Japan Innovation Party (Ishin) berpeluang menyegel lebih dari 300 kursi Majelis Rendah.
Dominasi itu, menurut Mahendra, adalah garansi politik yang mahal harganya.
Mahendra menganalisis, dengan pijakan politik yang kuat, Takaichi tidak akan ragu mengeksekusi kebijakan luar negeri yang agresif namun pro bisnis.
Hal itu menguntungkan Indonesia yang tengah memacu pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen hingga 5,4 persen.
“Jepang sedang stagnan di angka 1-2 persen. Mereka butuh pasar yang lapar dan dinamis seperti Indonesia. Ini simbiosis mutualisme yang tidak bisa ditawar,” paparnya.
Manufaktur dan IKN
Dalam pandangan Mahendra, kemenangan kubu konservatif di Jepang akan mempercepat realisasi komitmen investasi di sektor-sektor padat modal.
Ia menyoroti dua pos strategis, hilirisasi nikel dan pengembangan kota pintar di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Konsep interdependensi ekonomi, lanjut Mahendra, bekerja efektif di sini.
Jepang membutuhkan jaminan pasokan energi dan bahan baku industri, sementara Indonesia membutuhkan transfer teknologi.
“Kita bisa proyeksikan lonjakan ekspor manufaktur 10 hingga 15 persen pasca-pemilu ini.
“Kuncinya ada di stabilitas Tokyo yang berimbas pada kelancaran rantai pasok ke Jakarta,” jelas Sosok yang intens mengamati dinamika Asia Timur ini.
Jemput Bola Prabowo-Sugiono
Di sisi lain, momentum tersebut tidak datang begitu saja.
Mahendra memberikan kredit khusus pada manuver diplomasi jemput bola yang dijalankan Presiden Prabowo dan Menteri Luar Negeri Sugiono.
Pendekatan personal ke elit LDP dinilai sukses memosisikan Indonesia sebagai mitra prioritas, melampaui negara ASEAN lainnya.
Dialog 2+2 (Menteri Luar Negeri dan Pertahanan) yang intensif, menurut Mahendra, juga menjadi faktor penentu mengapa Jepang memandang Indonesia sebagai poros stabilitas di tengah memanasnya Laut China Selatan.
“Diplomat kita dan asosiasi bisnis sudah bekerja senyap namun efektif.
“Sekarang tinggal bagaimana kita mengawal momentum Bulan Madu kedua hubungan RI-Jepang ini agar surplus bagi kepentingan nasional,” pungkas Mahendra.






