KIRKA – Akademisi Universitas Lampung, Darmawan Purba, menilai PDIP enggan usung Ganjar Pranowo karena trauma dengan Jokowi dalam hal pembagian kursi kabinet.
Sebagai partai pengusung Jokowi yang berjuang dan memenangkan Gubernur DKI Jakarta 2012-2014 tersebut dalam Pilpres 2014 dan 2019, PDIP merasa tidak mendapatkan jumlah kursi kabinet seperti yang diharapkan.
“Ada momen dimana Ibu Megawati mengingatkan Pak Jokowi adalah petugas partai. Saya melihat pesan dari Ketua Umum partai bahwa Pak Jokowi perlu mendistribusikan kekuasaan bagi PDIP,” ujar Darmawan Purba pada Senin, 29 Agustus 2022.
Tidak bisa dipungkiri bahwa PDIP menjadi kendaraan politik Jokowi menuju kursi RI-1, namun dalam hal pemenangan Jokowi sebagai Presiden RI 2014-2019 dan 2019-2024 juga melibatkan ratusan organ relawan.
“Posisi Pak Jokowi diusung banyak elemen, oleh kelompok relawan pendukung. Sehingga pada bagian itu, ujian bagi presiden terpilih, harus bisa mendistribusikan kekuasaan secara lebih luas. Termasuk bagi kelompok-kelompok yang tidak menjadi bagian dari proses pemenangan,” jelas dia.
Beranjak dari pengalaman tersebut, menurut Darmawan Purba, PDIP melakukan evaluasi di internal jika ingin mengusung Ganjar Pranowo yang banyak mendapatkan dukungan dari eksternal partai untuk maju pada Pilpres 2024.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Konsisten Unggul Sebagai Capres 2024
“PDIP sedang menghitung sebagai partai dengan elektoral tertinggi, tiket pencalonan presiden dan wakil presiden bisa secara mandiri, kira-kira jika mengusung Ganjar Pranowo, apakah alokasi kekuasaan itu bisa terpenuhi atau tidak?”
Dalam konteks tersebut, kata Darmawan Purba, sangat penting bagi PDIP untuk mengusung kader internal yang memiliki kedekatan dengan hierarki struktur kepengurusan partai, Puan Maharani.
“Terlebih Ibu Megawati Soekarnoputri tentu punya interest terhadap trah beliau di partai politik. Pilpres 2024 ini medan aktualisasinya Puan Maharani untuk melakukan konsolidasi partai untuk Pemilu 2024,” ujar dia.
Darmawan Purba menjelaskan terkait PDIP enggan usung Ganjar Pranowo karena trauma dengan Jokowi sejalan dengan pendapat ilmuwan politik terkemuka Amerika Serikat, Harold Dwight Lasswell.
“Lasswell melalui bukunya berjudul Politics: Who Gets What, When, How. Siapa mendapatkan apa, lalu kapan dan bagaimana berbicara tentang pembagian kekuasaan,” ujar Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung ini.
Buku yang diterbitkan pada tahun 1936 tersebut seolah sudah meramalkan kondisi politik Indonesia di masa kini.






