Kirka – Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris dan Swiss pada pertengahan Januari 2026 dinilai bukan sekadar kunjungan seremonial biasa.
Perjalanan diplomatik ini dianggap sebagai titik balik strategi ekonomi Indonesia di kancah global.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut langkah Kepala Negara kali ini sebagai bentuk diplomasi ekonomi yang berani dan terencana.
Indikator paling nyata adalah keberhasilan mengamankan komitmen investasi senilai Rp90 triliun dari Inggris yang mencakup sektor maritim, pendidikan, hingga teknologi hijau.
“Ini menunjukkan jati diri baru kita. Dari pertemuan dengan Raja Charles III hingga forum di Davos, Indonesia menegaskan posisi bukan lagi sekadar penonton, tapi pemain kunci yang turut mengarahkan konstelasi ekonomi global,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Sabtu, 24 Januari 2026.
Keluar dari Jebakan Bahan Mentah
Mahendra menyoroti pergeseran strategi yang dimainkan Indonesia.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang fokus pada relokasi manufaktur padat karya, Indonesia di bawah Prabowo dinilai lebih agresif membidik investasi bernilai tambah tinggi.
Menurut Mahendra, Indonesia sedang berusaha keras keluar dari stigma negara berkembang yang hanya bertugas sebagai pemasok bahan mentah.
“Kita tidak lagi hanya menjual komoditas. Dengan masuknya investasi teknologi hijau dan tawaran kapasitas industri, kita menggeser posisi dalam rantai nilai global. Itu langkah cerdas untuk naik kelas,” tegasnya.
Danantara dan Isu Lingkungan
Dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Mahendra memberikan catatan khusus pada pengenalan Danantara.
Instrumen investasi kedaulatan (sovereign wealth fund) dinilai Mahendra sebagai langkah modern dan transparan untuk mengelola aset negara.
Selain itu, kesepakatan pemulihan ekosistem di 57 taman nasional yang dibahas bersama Inggris dinilai Mahendra sebagai strategi jitu.
“Itu cara cerdas membuka peluang pendanaan hijau (green financing). Kita menyeimbangkan kepentingan ekonomi pragmatis dengan isu lingkungan.
“Di hadapan PM Keir Starmer dan Raja Charles III, kita tunjukkan bahwa Indonesia serius menjaga aset alamnya,” imbuh Mahendra.
Apresiasi Tim Dapur Diplomasi
Di balik kesuksesan membawa pulang komitmen investasi dan penandatanganan piagam Dewan Perdamaian, Mahendra mengingatkan pentingnya peran tim teknis di belakang layar.
Ia mengapresiasi kinerja Kementerian Luar Negeri, Kemenko Perekonomian, dan tim perancang Danantara yang berhasil mengemas narasi Indonesia menjadi seksi di mata investor global.
“Kepercayaan diri untuk berdiri sejajar dengan negara maju itu tidak muncul tiba-tiba.
“Ada kerja keras tim diplomasi kita yang membuat Indonesia kini patut diperhitungkan, bukan hanya sebagai pasar, tapi sebagai mitra strategis,” tutup Mahendra.






