Menyelamatkan Emas Putih Nusantara: Mengapa Masa Depan Kuliner Kita Bergantung pada Kemiri?

Menyelamatkan Emas Putih Nusantara: Mengapa Masa Depan Kuliner Kita Bergantung pada Kemiri?
Ilustrasi peran vital kemiri alias Emas Putih dari kebun petani hingga menjadi kunci kelezatan kuliner Nusantara. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, memperingatkan adanya ancaman serius terhadap keberlangsungan cita rasa kuliner Indonesia.

Hal ini dipicu oleh ketimpangan antara tingginya konsumsi dan menurunnya pasokan kemiri (Aleurites moluccanus) di pasaran.

Mahendra menilai, jika tidak ada intervensi strategis, masakan khas Nusantara terancam kehilangan otentisitas rasanya.

Menurutnya, kemiri bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi masakan populer seperti rendang, rawon, hingga soto.

“Bagi lidah orang Indonesia, ada yang hilang jika kemiri absen. Ia adalah dirigen yang menyatukan harmoni rempah.

“Tanpa kemiri, masakan kita akan terasa encer dan kehilangan kedalaman rasa atau depth of flavor,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Kamis, 19 Februari 2026.

Teknologi Jadi Kunci Penyelamatan

Pria yang kini menjabat sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan ini menyoroti masalah klasik di tingkat petani, proses pasca-panen yang rumit.

Kulit biji kemiri yang keras membuat petani enggan fokus pada komoditas ini karena memakan waktu lama jika dikupas manual.

Namun, angin segar mulai berembus dari Lampung. Mahendra mengapresiasi kolaborasi antara kebijakan Ekonomi Hijau Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dengan inovasi akademisi.

“Langkah Prodi Rekayasa Kehutanan Itera yang menghadirkan mesin pengolahan kemiri di Pesawaran dan Lampung Tengah adalah terobosan vital.

“Itu bukan sekadar mekanisasi, tapi upaya memutus rantai kerumitan pasca panen agar petani muda tidak meninggalkan kemiri,” tegas Mahendra.

Menurutnya, teknologi adalah jembatan mutlak antara tradisi dan modernitas.

Tanpa efisiensi mesin, kemiri akan ditinggalkan karena dianggap tidak bernilai ekonomis.

India dan Vietnam

Mantan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh ini juga mengajak pemangku kebijakan untuk berkaca pada keseriusan negara tetangga.

Ia mencontohkan Vietnam dalam pengelolaan kacang-kacangan dan India dengan Spices Board-nya yang sangat protektif terhadap rantai pasok rempah.

“Di sana (India), subsidi teknologi dan jaminan harga diberikan. Hasilnya, kuliner tradisional mereka tetap memiliki bahan baku otentik yang melimpah.

“Jika kita ingin kuliner Nusantara tetap ajek, stabilitas pasokan adalah harga mati,” paparnya.

Triple Helix

Untuk menyelamatkan Emas Putih Nusantara, Mahendra menyarankan pendekatan triple helix yang melibatkan pemerintah, swasta/BUMN, dan akademisi.

Ia merinci, pemerintah harus menjamin zonasi lahan hutan kemiri dan bibit unggul.

Sementara itu, BUMN atau swasta harus hadir sebagai off taker (penyerap hasil panen) dengan harga yang adil, didukung oleh riset teknologi tepat guna dari akademisi.

“Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mengenal rasa rendang dari penyedap sintetik karena pohon kemiri hilang dari bumi Lampung dan Nusantara.

“Kemiri harus dilihat sebagai fondasi identitas kuliner, bukan komoditas pinggiran,” pungkas Mahendra.

Sebagai informasi, Mahendra Utama dikenal aktif menyoroti isu pembangunan daerah.

Selain menjadi pendamping gubernur, ia memiliki rekam jejak panjang di korporasi, termasuk menjabat sebagai Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak 2020.