Menu
Precision, Actual & Factual

Maju Tak Gentar Kombes Pol Mestron Siboro

  • Bagikan
Dirkrimsus Polda Lampung Kombes Pol Mestron Siboro. Foto Istimewa

KIRKA.CO – Baru-baru ini, penetapan tersangka yang dilakukan Polda Lampung terhadap Hengky Widodo atau Engsit atas dugaan korupsi dinyatakan batal berdasarkan hasil persidangan praperadilan yang diajukan Engsit.

Pasca dari peristiwa itu, Polda Lampung diketahui menerbitkan Surat Telegram yang berisikan keterangan rotasi personil kepolisian.

Tak sedikit personil Subdit III Tipikor Polda Lampung yang bergeser. Pemegang tongkat komando pada Subdit yang khusus dibentuk untuk menangani korupsi itu pun, bergeser.

Tak hanya pergeseran personil, Mabes Polri sehari setelahnya pun menerbitkan Surat Telegram.

Isi surat yang diterbitkan tersebut memuat pergeseran jabatan Direktur pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus, pemegang tongkat komando dari Subdit III Tipikor.

Kombes Pol Mestron Siboro dipindahtugaskan oleh Kapolri Jendral Sigit Listiyo Prabowo.

Jika ditarik benang merah dari sisi Alumni Akpol, Kapolri angkatan 91, meminta angkatan 88 Batalyon Atmani Wedana itu untuk bergeser dari jabatan mentereng di Polda Lampung.

Pengganti Mestron Siboro adalah AKBP Ari Rahman Nafarin. Satu alumni dengan Kapolri, sama-sama Alumni Akpol Angkatan 91.

Meski penetapan tersangka kepada Engsit dinyatakan gugur dan kemudian dipindahtugaskan, semangat Mestron Siboro tak surut dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum pada sisi Tipikor.

Kepada KIRKA.CO, semangatnya menelisik dugaan perbuatan korupsi yang disangkakan kepada Engsit tak kendur sedikit pun.

“Terkait dengan penetapan tersangka dianulir atau dibatalkan oleh hakim praperadilan, tidak menggugurkan Engsit sebagai tersangka, dan tidak pula menghilangkan sesuatu apapun dalam perkara tersebut.

Prapid itu merupakan salah satu upaya yg dilakukan oleh Engsit untuk menghindar dari jeratan hukum, dan itu wajar dilakukannya.

Namun kasus tetap ada dan tidak bergeser mundur sejengkal pun bahkan perkaranya semakin mengkristal kuat,” ungkap Mestron Siboro, Sabtu kemarin, 5 Juni 2021.

Keterangan di atas tadi meluncur dari Mestron Siboro saat KIRKA.CO menanyakan informasi ihwal adanya pengusutan terhadap penambangan diduga ilegal.

Penambangan itu, disebut-sebut berkorelasi dengan perkara dugaan korupsi yang mengitari Engsit dan sedang ditindaklanjuti oleh anggotanya.

Diketahui, sangkaan perbuatan korupsi ini menyoal tentang pekerjaan konstruksi pada Jalan Ir Sutami KM 17 Lampung Selatan hingga Sribawono Tahun Anggaran 2018-2019.

Ada pun pengerjaan proyek tersebut dilaksanakan oleh PT Usaha Remaja Mandiri (URM), milik Hengky Widodo.

Atas dugaan korupsi yang dilakukan PT URM ini, kerugian negara disebut mencapai Rp 60 hingga Rp 65 miliar.

Penanganan perkara ini dimulai dengan kegiatan penyelidikan tim penyidik sejak 6 Oktober 2020, lalu dilanjut ke penyidikan pada 26 Februari 2021.

Diketahui penyidik sudah memeriksa 54 orang saksi dari berbagai pihak. Sebelumnya juga, sudah melakukan penggeledahan di Kantor PT URM.

Dana atas proyek infrastruktur ini diketahui berasal dari APBN yang dikucurkan melalui Kementerian PU-PR dengan total nilai pagu sekitar Rp 147,7 miliar.

  • Bagikan