Kirka – Menjelang momentum Ramadan dan Idul Fitri 2026, Provinsi Lampung dipastikan memegang peran vital dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan logistik nasional.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menyebut provinsi ini bukan sekadar daerah agraris, melainkan episentrum kedaulatan pangan yang sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan itu merespons peringatan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang baru-baru ini menegaskan agar pelaku usaha tidak menaikkan harga pangan di luar batas kewajaran.
Menurut Mahendra, ketegasan pemerintah pusat tersebut memiliki landasan kuat, mengingat kondisi faktual di lumbung-lumbung strategis seperti Lampung saat ini dalam keadaan surplus.
“Peringatan Menteri Pertanian agar pedagang menjaga etika perdagangan itu sangat beralasan. Fakta di lapangan menunjukkan produksi pangan kita melimpah.
“Lampung siap menjadi benteng untuk memastikan perut rakyat tetap terisi dengan harga terjangkau,” ujar Mahendra Utama di Bandarlampung, Kamis, 19 Februari 2026.
Surplus Pangan dan Dominasi Komoditas
Mahendra, yang saat ini menjabat sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, memaparkan data strategis terkait kekuatan agraris Lampung.
Berdasarkan proyeksi tahun 2025, produksi padi di Lampung menyentuh angka 3,5 juta ton dengan surplus mencapai hampir 800 ribu ton.
Angka itu mengukuhkan posisi Lampung di peringkat lima besar nasional.
Tidak hanya beras, Mahendra menyoroti dominasi mutlak Lampung pada komoditas singkong yang menyumbang 60 persen kebutuhan nasional, serta posisi strategis dalam produksi jagung dan kopi robusta.
“Lampung adalah tulang punggung. Selain tanaman pangan, kita juga penyedia protein hewani vital bagi Ibu Kota dan kawasan regional.
“Produksi ayam kita jutaan ekor per bulan, ditambah populasi kambing yang merupakan terbesar kedua di Indonesia,” jelas Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis tersebut.
Pusat dan Daerah
Dalam kacamata Mahendra, keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi kebijakan antara pusat dan daerah.
Ia mengapresiasi langkah taktis Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang dinilai progresif dalam menyempurnakan ekosistem pertanian.
Mahendra mencontohkan transformasi program kartu petani yang kini lebih solid dalam memastikan distribusi pupuk tepat sasaran serta kemudahan akses modal bagi UMKM pangan.
“Sinergi ini berjalan baik dari Presiden dengan visi Asta Cita-nya, dieksekusi oleh Mentan, dan diterjemahkan dengan tepat oleh Gubernur serta para Bupati/Wali Kota yang mendampingi petani langsung di desa-desa,” paparnya.
Global Food Hub 2031
Lebih jauh, Mahendra menganalisis bahwa arah kebijakan pangan saat ini sudah bergeser dari sekadar mengejar angka produksi menuju hilirisasi (Value Chain Development).
Langkah Lampung mendorong pengolahan kopi bubuk premium dan produk turunan singkong melalui 492 ribu UMKM dinilai sebagai strategi jitu meningkatkan kesejahteraan petani.
Melihat akselerasi teknologi dan mekanisasi pertanian yang dapat menggenjot produktivitas hingga 25 persen, Mahendra optimistis terhadap masa depan pertanian Lampung.
“Saya memprediksi dalam lima tahun ke depan, tepatnya 2031, Lampung akan bertransformasi menjadi Global Food Hub.
“Kita tidak hanya akan swasembada, tetapi menjadi penentu harga (price setter) untuk komoditas singkong dan kopi di pasar internasional,” pungkas eks Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh ini.






