“Ini menjadi kesempatan yang luar biasa untuk LDS meningkatkan kapasitas diri seperti bagaimana melakukan kampanye advokasi serta upaya menghadirkan narasi yang sehat di ruang publik,” ujar Yan.
Dia mengatakan salah satu persoalan serius demokrasi Indonesia yang menjadi sorotan adalah masih dominannya narasi sentimentil di ruang publik.
“Narasi yang menyasar emosional masyarakat, bukan demokrasi ide atau gagasan dalam membangun keadilan dan kesejahteraan di masyarakat,” kata dia.
Yan mencontohkan Mohammad Hatta melalui bukunya Demokrasi Kita yang mengkritisi Demokrasi Terpimpin 1959-1966 di era Presiden RI Soekarno.
“Beliau dengan pemikirannya tentang demokrasi adalah contoh kritik melalui gagasan. Hal semacam itulah yang harus kita upayakan bersama untuk hadir di ruang publik agar kualitas demokrasi Indonesia semakin baik,” jelas dia.
Lampung Democracy Studies hadiri pertemuan ADN Bali yang mengangkat tema “Forging a Stronger and Consolidated Movement for the Future of Democracy in Asia”.
Setiap tahun, ADN menggelar pertemuan yang diikuti lebih dari 100 kelompok pendukung demokrasi dari seluruh dunia untuk membahas dan menyusun strategi tentang mengarusutamakan dan memajukan narasi demokrasi Asia.
Baca Juga: Bawaslu Lampung Verifikasi Faktual Ulang Hasil Verifikasi KPU






