‘Lampung Dajjal’ Diksi Anak Muda Kritisi Kinerja Arinal-Nunik

'Lampung Dajjal' Diksi Anak Muda Kritisi Kinerja Arinal-Nunik
Tiktoker Bima Yudho Saputro, @awbimax, menyebut diksi Lampung Dajjal dalam video presentasi "Alasan Kenapa Lampung Gak Maju-Maju" melalui unggahan videonya di aplikasi Tiktok. Foto: Istimewa

KIRKA – Tiktoker Bima Yudho Saputro, @AwbimaxReborn, menyebutkan diksi ‘Lampung Dajjal’ untuk mengkritisi kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim (Nunik).

Baca Juga: 33 Janji Arinal-Nunik Bakal Kandas

Menurut pakar Ilmu Komunikasi Universitas Lampung, Dr. Andy Corry Wardhani, M.Si, penggunaan diksi ‘Lampung Dajjal’ oleh Bima harus dimaklumi di era digitalisasi saat ini.

“Kalau kita perhatikan, Bima ini masih anak muda. Salah satu kelemahan generasi muda kita adalah mereka tidak punya etika berkomunikasi,” ujar Andy Corry saat dihubungi, Sabtu (15/4/2023).

Baca Juga: 103 Penjabat Kepala Daerah Dilantik Tanpa Dasar Hukum, Termasuk Lampung

Dosen senior di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung ini mengatakan etika komunikasi generasi muda saat ini banyak dipengaruhi perkembangan teknologi informasi yang masif.

“Yang perlu ditangkap oleh para pejabat publik adalah urgensinya atau substansi dari kritik. Ini yang perlu diperhatikan,” tegas Andy Corry.

Bima Yudho Saputro, pemuda asal Lampung yang menimba ilmu di Australia, dipolisikan gegara video kritiknya terhadap pembangunan infrastruktur di Lampung.

“Masalah diksi (anak muda ini), orang tua harus memaklumi. Anak muda sekarang, dengan kata-kata mereka sendiri, bahasa pergaulan, seringkali tidak punya etika berkomunikasi. Itu soal biasa bagi mereka,” kata Andy Corry.

Bima Yudho Saputro melalui akun Tiktoknya, @AwbimaxReborn, mengunggah video dirinya sedang mempresentasikan “Alasan Kenapa Lampung Gak Maju-Maju” sebagai kritik terhadap Pemprov Lampung.

Video yang mendapatkan banyak dukungan dari warganet ini menyinggung masalah infrastruktur, pertanian, ekonomi, pendidikan, korupsi, dan pembangunan Kota Baru yang mangkrak hingga saat ini.

Baca Juga: Dua Gubernur Belum Mampu Wujudkan Kota Baru

Andy Corry menilai kritik yang disampaikan oleh Bima melalui media sosial harus bisa diterima sebagai informasi dalam era keterbukaan publik.

“Dulu, kritik itu disampaikan secara beretika dalam media-media mainstream, sekarang orang bisa mengkritik dari media apa saja,” kata dia.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi, lanjut Andy, menimbulkan kesenjangan etika berkomunikasi antara orang tua dan generasi muda.

Anak muda banyak menggunakan daftar istilah untuk memperkaya bahasa gaul mereka yang diambil dari berbagai bahasa.

Sehingga, kritik yang disampaikan generasi muda dalam gaya bahasa kekinian dinilai sesuatu yang buruk oleh orang-orang tua.

Generasi muda, ujar dia, perlu memerhatikan etika komunikasi dalam menyampaikan kritik agar tidak menyinggung perasaan orang yang dikritik dan banyak orang lainnya.

“Masalah diksi adalah tugas kita bersama bagaimana generasi muda punya etika berkomunikasi yang sehat. Jadi, kalau tidak punya komunikasi yang baik, banyak orang tidak suka dan tersinggung. Ini perlu diperhatikan,” kata Andy Corry.

Simbol Intimidasi.

Bima diadukan ke Polda Lampung terkait pelanggaran Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

Bahkan rumah orangtuanya sempat didatangi aparat kepolisian dan pemerintah daerah setempat.