Emas Hijau yang Terlupakan: Mengapa Lampung Harus Berhenti Meremehkan Rebung?

Emas Hijau yang Terlupakan: Mengapa Lampung Harus Berhenti Meremehkan Rebung?
Ilustrasi: Petani memamerkan panen dan ragam produk olahan rebung. Hilirisasi komoditas ini dinilai mampu mendongkrak kesejahteraan petani di Lampung. Foto: Arsip Wiki/DBS/Kirka/I

Kirka – Narasi kejayaan kopi robusta dan nanas kaleng asal Lampung nyaris selalu merajai etalase ekonomi dan pasar global.

Namun, di balik riuhnya selebrasi komoditas unggulan tersebut, ada satu harta karun yang seolah luput dari radar kebijakan pemerintah daerah, rebung.

Selama periode 2020-2025, tunas bambu ini diam-diam menyimpan daya ledak ekonomi yang signifikan.

Ironisnya, hingga hari ini, komoditas tersebut masih terjebak dalam stigma usang sebagai sayuran kelas dua, atau sekadar isian wajib penganan lumpia.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, melontarkan pandangan kritis terkait ketimpangan itu.

Menurutnya, abai terhadap potensi rebung sama halnya dengan membiarkan mesin penggerak kesejahteraan petani berkarat tanpa guna.

“Kalau kita bedah data produksi hortikultura di sentra-sentra seperti Lampung Selatan, Pesawaran, hingga Pringsewu, ada anomali yang sangat menarik.

“Bambu dan turunannya ini punya resiliensi luar biasa terhadap fluktuasi iklim, jauh lebih tangguh dibandingkan beberapa tanaman perkebunan utama,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Senin, 2 Maret 2026.

Fakta di lapangan membuktikan ketangguhan tersebut.

Saat sektor logistik babak belur dihantam pandemi pada 2020 silam, rebung justru tampil sebagai primadona penyelamat pasar domestik.

Harganya yang merakyat serta fleksibilitasnya untuk diolah menjadi produk fermentasi atau asinan membuatnya sulit tergeser.

Di kancah global, situasinya tak kalah menjanjikan.

Permintaan ekspor, dengan muara utama pasar Jepang dan China, terus menunjukkan grafik menanjak.

Sayangnya, Lampung masih terengah-engah mengejar ketertinggalan dalam hal standarisasi kelayakan produk ekspor.

Darurat Hilirisasi, Terjebak Harga Tengkulak

Lebih jauh, Mahendra menyoroti penyakit kronis sektor pertanian lokal, ketergantungan akut pada penjualan bahan mentah.

Petani bambu dinilai masih terlalu pasrah melepas rebung dalam karung-karung plastik ke pasar tradisional, menyerahkan nasib pada fluktuasi harga yang kerap dicekik tengkulak.

Kunci kebangkitan ekonomi ke depan, tegasnya, mutlak berada di jalur hilirisasi skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Coba bayangkan sebuah skenario di mana setiap desa sentra bambu memiliki fasilitas pengolahan vacuum packed (kemasan kedap udara) atau pabrik pengalengan mini.

“Lompatan nilai tambahnya tidak main-main, bisa meroket hingga 300 persen ketimbang memaksakan diri menjual rebung mentah yang rentan busuk,” urainya.

Diversifikasi atau Jadi Penonton?

Mahendra mendesak agar pemerintah daerah tidak lagi menunda.

Tahun ini harus menjadi titik balik krusial untuk memancang nama rebung ke dalam peta jalan diversifikasi pangan daerah.

Ada tiga landasan argumentasi yang ia sodorkan.

Pertama, dari kacamata ekologi, bambu adalah garda terdepan konservasi air untuk memulihkan lahan kritis di Lampung.

Kedua, di tengah bayang-bayang krisis pangan global, rebung hadir sebagai lumbung serat melimpah yang tak rewel perawatannya.

“Yang ketiga dan tak kalah seksi adalah ceruk pasar vegan global. Gaya hidup sehat dunia saat ini bergeser mencari alternatif pengganti daging (meat substitute).

“Tekstur rebung adalah kandidat juara untuk mengisi kekosongan tersebut,” papar Mahendra.

Pada akhirnya, mengubah status rebung dari sekadar sayur pelengkap menjadi emas hijau bukanlah persoalan ada tidaknya lahan, melainkan murni soal keberanian political will dari para pemangku kebijakan.

“Jika pemerintah terus-menerus terpaku pada komoditas raksasa dan buta terhadap potensi di bawah rumpun bambu,

“Lampung bersiaplah hanya menjadi penonton di tengah ledakan industri makanan olahan dunia.

“Padahal, instrumen nyata pengentas kemiskinan itu ada di depan mata,” pungkasnya.