Kirka – Tak butuh waktu lama bagi Rahmat Mirzani Djausal untuk membuktikan kapasitasnya sebagai perpanjangan tangan pusat di daerah.
Di mata pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, Gubernur Lampung ini langsung tancap gas menjadikan Sai Bumi Ruwa Jurai sebagai etalase sukses program ekonomi Presiden Prabowo Subianto di awal 2026.
Mahendra menilai, di tengah ambisi nasional mengejar pertumbuhan ekonomi 6-8 persen, posisi Mirza bukan sekadar pelaksana instruksi, melainkan akselerator.
“Ini bukan lagi soal rencana di atas kertas. Saya melihat Mirza cerdik memainkan peran. Ia menyinkronkan RPJMD Lampung 2025-2029 dengan Asta Cita Prabowo secara presisi.
“Hasilnya? Awal 2026 ini mesin ekonomi Lampung sudah panas dan berlari kencang,” tegas Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 4 Februari 2026.
Pangan Terjaga, Inflasi Jinak
Mahendra menunjuk data sebagai bukti sahih, bukan asumsi.
Saat banyak daerah berjibaku menahan gejolak harga, Lampung justru mencatatkan stabilitas yang mengesankan.
Inflasi tahunan (Year on Year) berhasil ditekan di angka 1,25 hingga 1,90 persen, bahkan mencatat deflasi pada Januari 2026.
Menurut Mahendra, keberhasilan ini adalah buah dari respons cepat Mirza yang notabene kader loyal Gerindra dalam mengamankan instruksi swasembada pangan.
“Mirza paham betul, perut rakyat adalah kunci stabilitas. Dengan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 yang tembus 5,04 persen, Lampung kini sah menjadi barometer pangan nasional.
“Langkahnya menggenjot fasilitas pengering padi dan pupuk organik di sentra tani terbukti ampuh menjaga daya beli,” urainya.
Bukan Nasi Bungkus
Sorotan tajam Mahendra juga tertuju pada eksekusi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baginya, Mirza berhasil menerjemahkan program ini tidak sebatas bantuan sosial, melainkan stimulus ekonomi raksasa bagi pedesaan.
Data di lapangan menunjukkan 919 Satuan Pelayanan Pengelola Gizi (SPPG) telah beroperasi penuh, digerakkan oleh lebih dari 40 ribu relawan.
“Bayangkan efek dominonya. Ada 2,3 juta penerima manfaat, tapi di balik itu ada 3.000 lebih pemasok lokal yang hidup.
“Sayur dari petani desa, ikan dari nelayan lokal, semua terserap. Ini perputaran uang riil yang langsung dinikmati rakyat kecil,” jelasnya.
Hilirisasi dan Catatan
Di sektor industri, Mahendra mengapresiasi ketegasan Mirza menahan agar nilai tambah komoditas unggulan seperti kopi, sawit, dan singkong tidak terbang ke luar daerah dalam bentuk mentah.
Industrialisasi berbasis komoditas lokal ini dinilai selaras dengan target investasi hilirisasi nasional.
Namun, sebagai pengamat senior, Mahendra tetap memberikan catatan kritis agar pemerintah daerah tidak terlena.
Ia mengingatkan masih ada pekerjaan rumah (PR) besar terkait Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan kenaikan upah minimum yang masih landai di kisaran 3-5 persen.
“Akselerasi sudah bagus, tapi inklusivitas jangan dilupakan. Mirza harus memastikan kue pembangunan ini juga menekan angka pengangguran terdidik.
“Kolaborasi dengan asosiasi profesi seperti Perkindo harus lebih agresif,” ingatnya.
Menutup analisisnya, Mahendra optimistis. Jika ritme kerja dan sinkronisasi kebijakan ini dipertahankan, Lampung punya peluang besar menjadi lokomotif ekonomi Sumatera.
“2026 adalah tahun pertaruhan. Jika Mirza konsisten, Lampung akan menjadi model nasional bagaimana visi presiden dieksekusi sempurna di level daerah,” pungkas Mahendra.






